Showing posts with label biografi. Show all posts
Showing posts with label biografi. Show all posts

Wednesday, October 29, 2014

BIOGRAFI THE S.I.G.I.T

The S.I.G.I.T bukanlah sebuah band karbitan yang sekedar mengandalkan unsur keberuntungan. Perjalanan karir mereka dimulai dari pertemanan semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Proses demi proses mereka lalui hingga kini The S.I.G.I.T banyak dianggap sebagai salah satu grup musik garda depan dari generasi muda di dunia musik rock Indonesia. 

Pada awalnya, para personil The S.I.G.I.T yakni Rektivianto Yoewono (Vocal, gitar), Farri Icksan Wibisana (Gitar), Aditya Bagja Mulyana (Bas, vokal latar) dan Donar Armando Ekana / Acil (Drum) hanyalah sekumpulan pecinta musik akut yang setiap hari di kepala mereka berisi band-band favorit serta segala seluk beluk teknis musik seperti gitar, efek ataupun cerita-cerita biografi. “Mungkin tarafnya sama seperti anak remaja yang menggilai pemain bola dan tim sepak bola,“ kenang Rekti mengenai masa remajanya dulu.

Berangkat dari kecintaan yang dalam terhadap musik serta mengidolakan berbagai band yang sama, maka kala itu mereka berempat sepakat untuk mengubah predikat selama ini dari pendengar musik menjadi pemain musik.

Kemampuan bermain musik yang mereka pelajari secara otodidak menjadi modal awal untuk menjadi ‘anak band’. “Skill permainan masing-masing juga berawal dari tahap yang sama dan pengembangan skill permainan dan pembuatan lagu juga diasah bareng selama ini,” tukas Rekti.

Walau sudah bermain musik bersama sedari SMP (1997), namun nama The S.I.G.I.T baru digunakan pada tahun 2002, saat mereka tengah duduk di bangku perguruan tinggi seiring juga mereka memfokuskan diri untuk memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri. Sebelum menggunakan nama The S.I.G.I.T, band ini kerap memainkan berbagai lagu dari banyak band idola mereka seperti Led Zeppelin, The Clash dan The Stooges.
Nama The S.I.G.I.T sendiri merupakan kepanjangan dari The Super Insurgent Group of Intemperance Talent yang merupakan buah pikiran Rekti yang terinspirasi dari nama-nama band di luar sana yang kerap menggunakan singkatan yang memiliki banyak arti.

Penampilan perdana mereka di bawah nama The S.I.G.I.T terjadi pada tanggal 23 Oktober 2003 dalam sebuah acara fakultas Arsitektur, Universitas Parahyangan. Kebetulan Farri dan Acil memang berkuliah disana. Setelah penampilan perdana tersebut, nama The S.I.G.I.T pelan-pelan mulai bergaung di kalangan kampus. Acara demi acara di kampus mulai menjadi santapan mingguan mereka.

Hingga pada saat itu, mereka mendapat tawaran dari Spills Records untuk merilis sebuah mini album. Di tahun 2004, debut mini album yang hanya dikerjakan dalam waktu dua minggu akhirnya dirilis dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Walau begitu, pemunculan mereka kala itu juga tidak lepas dari komentar miring sebagian pihak yang menganggap mereka hanyalah band yang mengikuti tren saja. Anggapan itu muncul karena musik rock yang mereka mainkan serupa dengan musik garage rock yang di awal periode 2000-an sedang naik daun. Untuk anggapan miring tersebut, Rekti berpendapat, “Memang kebetulan pada era awal 2000an sedang marak band-band rock revival seperti The Strokes, The Datsuns, The White Stripes dan mereka saat itu ‘dilabeli’ sebagai garage rock. Memang kami mengikuti dan mendengarkan band-band tersebut. Bukan karena sedang booming, melainkan karena kami selalu menggemari musik semacam itu. Dan yang kami rasakan saat itu adalah euforia. Bayangkan gimana rasanya aliran musik yang anda gemari bangkit kembali dan bermunculan lagi band-band yang menarik. Namun tanpa adanya booming garage rock pun saya yakin kami akan menjadi band seperti kami sekarang, yang mendapatkan banyak influence dari band rock 60-70an.”

Promosi Word of Mouth
The S.I.G.I.T adalah satu dari sekian band yang lahir di periode 2000 di Bandung. Sebuah masa dimana menurut mereka adalah stagnan dan pasif jika dibandingkan dengan periode musik era 90-an di Bandung. “Kalau dilihat dari intesitas acara, tahun 90’an scene-nya lebih hidup. Walaupun acara-acara yang diadakan masih modal udunan (patungan) dan non-profit, namun semua pelaku yang terlibat di dalamnya sangat aktif dan sungguh-sungguh. Etos DIY (Do It Yourself) sangat kuat pada masa itu. Hampir semua band yang punya lagu sendiri merilis album (dengan modal sendiri juga),” ucap Rekti.

Namun walau The S.I.G.I.T lahir di era musik yang bisa dikatakan tidak cukup bergeliat dibandingkan era sebelumnya, mereka mengakui bahwa peran berbagai komunitas yang tersebar di Bandung ini cukup berperan pada karir mereka pada khususnya dan karir banyak band independent lainnya di kota Bandung. Semenjak periode 90-an, Bandung dikenal sebagai kota kreatif yang memiliki ikatan berbagai komunitas yang cukup kuat. Dari situlah, semua sektor yang ada saling melengkapi. 

“Komunitas itu biasa terbentuk tanpa sengaja. Biasanya awalnya hanya bermain bersama dan berlanjut menjadi sebuah kegiatan bersenang-senang. Hal ini membuat orang-orang yang terlibat menjadi lebih santai. Lebih mengedepankan sisi kekeluargaan atau pertemanan serta mudah berbaur. Makanya jarang ada perselisihan antar komunitas karena batas antara komunitas yang satu dengan yang lainnya juga tidak jelas. Keuntungan dari kondisi tersebut adalah: semua orang kenal semua orang (everyone knows everyone) dan relasi terjalin lebih mudah dan cepat. Kemudian terjadilah penyebaran berita mengenai sebuah band (word of mouth), berita sampai ke tangan orang yang tepat (radio, majalah, label, dll yang biasanya juga masih dalam lingkaran everyone knows everyone) Pada akhirnya sebuah band mendapatkan apa yang mereka butuhkan.” kata Rekti.

Hubungan erat antar komunitas ini terus berjalan beriringan. Semua sektor saling terkait. Dari musik hingga fashion. Dari sini, musik pun dapat menjadi salah satu faktor pendukung industri kreatif. Contoh paling nyata adalah merchandise band. Rekti berpendapat, “Penjualan merchandise seperti kaos adalah contoh komoditi ekonomi sebuah band yang paling gamblang. Jika sebuah band memiliki penggemar yang banyak dan memiliki produk merchandise yang menarik tentunya penjualannya akan berbanding lurus. Menurut saya sih hubungan antara band dan sebuah clothing adalah mutual. Sebuah band yang bagus akan menarik perhatian pembeli produk clothing. Sebaliknya sebuah clothing yang kredibilitasnya bagus akan membantu mengangkat nama band.”

Satu hal yang pasti, target pasar dari penjualan merchandise sebuah band adalah penggemar dari si band itu sendiri. Semakin besar komunitas penggemar pada sebuah band, maka akan besar juga kemungkinan merchandise tersebut akan dikonsumsi. Untuk The S.I.G.I.T mereka telah memiliki basis penggemar yang cukup besar. Penggemar The S.I.G.I.T menamakan diri mereka sebagai The Insurgent Army.

The Insurgent Army berawal dari penggemar yang dulu bersekolah di Taruna Bakti. Mereka selalu hadir dalam setiap pertunjukkan dan selalu bertambah jumlahnya setiap kalinya. “Peran penggemar yang paling terasa adalah upaya mereka dalam membantu kami menyebarkan berita atau word of mouth. Semakin luas cakupan word of mouth, semakin kuat fanbase. Maka dari itu bisa saya katakan kalau The S.I.G.I.T bisa seperti sekarang karena bantuan dan antusiasme dari fanbase. Tanpa ada mereka kami tidak akan seperti sekarang mengingat minimnya coverage dari media besar seperti televisi,” ujar Rekti mengenai basis penggemar The S.I.G.I.T yang ia sangat hargai itu.
Berbicara di Dunia Internasional

Dengan ramuan musik yang rancak serta basis penggemar yang besar, pada perjalanan karir selanjutnya, The S.I.G.I.T menjadi incaran dari berbagai label musik. Pilihan mereka lalu jatuh kepada FFCUTS, sebuah divisi khusus musik rock dari label FFWD yang dikenal sukses menaungi band Mocca. Di bulan Desember 2006, The S.I.G.I.T akhirnya merilis debut album penuh mereka yang bertajuk Visible Idea of Perfection. Tidak berapa lama, sebuah label asal Australia, Caveman juga tertarik untuk merilis album The S.I.G.I.T di negeri kangguru. Maka pada bulan Juni 2007, album Visible Idea of Perfection resmi beredar di seluruh Australia. Dan untuk mendukung promo album, pada tahun yang sama, The Sigit menggelar tur selama sebulan penuh dimana mereka bermain di sembilan kota dan tampil di 16 panggung berbeda.

Setelah itu, nama The S.I.G.I.T kian bergaung di dunia internasional. Di tahun 2008 mereka diundang tampil dalam salah satu festival musik terbesar di Amerika Serikat, South by Southwest (SXSW) di Texas. Namun karena bermasalah dengan visa, maka kepergian mereka akhirnya ditunda hingga tahun 2009 dimana mereka tidak hanya tampil dalam festival SXSW, namun juga tampil di panggung-panggung pada kota Los Angeles dan San Fransisco.

Banyak pengalaman dan pelajaran yang dipetik oleh mereka selama perjalanan ke luar negeri. “Kesan yang paling bersisa adalah pengalaman mengamati pola kerja band disana. Bagaimana mereka menjalani sebuah tur, mempersiapkan diri mereka, penampilan mereka. Banyak hal yang kami pelajari dalam hal-hal terebut. Mereka sangat sistematis. Mungkin karena infrastruktur industri hiburan dan musik sudah mapan sehingga segalanya seperti memudahkan musisi dalam bekerja. Di sana seorang musisi atau band tidak perlu pusing dengan masalah sepele seperti venue, peralatan, ketepatan waktu, keamanan, equipment dan hal kecil lainnya. Mereka hanya dipusingkan oleh masalah bagaimana membuat lagu yang bagus dan bagaimana menampilkan sebuah pertunjukkan yang menarik. Makanya mereka terlihat lebih fokus dengan apa yang mereka kerjakan,” jelas Rekti panjang lebar.

Antara Materi dan Kesuksesan
Sementara itu apa yang terjadi di kehidupan para personil The S.I.G.I.T itu sendiri hingga saat ini mereka belum tentu bisa 100 persen fokus terhadap kegiatan bermusik yang mereka cintai. Yang menjadi dasar, tentunya faktor penghasilan yang belum bisa menghidupi secara keseluruhan. Karena itu di sela-sela kegiatan bermusik, beberapa personil The S.I.G.I.T masih ‘harus’ menjalani kegiatan pekerjaan lainnya.

Rekti mengakui bahwa keinginan untuk menjadi full time musician itu sebenarnya telah ada di benak mereka. “Alangkah indahnya kalau kami bisa menjadikan band sebagai full time. Kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Penghasilan yang didapat dari band saat ini masih menjadi pendukung untuk mengemban inventaris peralatan. Uang yang kami dapat dari band biasanya digunakan untuk beli peralatan musik dalam rangka mendukung pembuatan lagu yang kami idam-idamkan. Saya jadi teringat wejangan dari seseorang yang pernah bilang ‘usaha dulu yang tekun, uang pasti menyusul.’ Kalau mikir uang terus jadinya stres. Selama masih bisa ngeband tanpa harus menjual barang, saya pribadi sih enggak apa-apa. Lagi pula saya pribadi enggak punya hasrat terhadap harta yang berlebih. Kalau kaya pun pasti uangnya buat beli alat musik atau piringan hitam. Jadi menurut saya, saat ini tahap band kami adalah full time musician for musical purpose dan another job for another purpose.”
Dengan berbagai penghargaan dan popularitas yang mereka dapat sejauh ini, The S.I.G.I.T mengaku masih berusaha keras untuk dapat menghasilkan karya sebagus mungkin. Karena mereka merasa masih belum puas dengan apa yang telah dihasilkan selama ini. “Yang pasti kita nggak pengen cepet puas karena kalau udah puas akan kehilangan tujuan.”

Bagi The S.I.G.I.T definisi sukses bagi sebuah band bukan hanya dinilai dari materi. Sukses bisa berasal dari berbagai unsur lain selain materi. Dari awal terbentuk, mereka menjalani karir musik ini tanpa ambisi yang besar. Bagi mereka, lebih baik fokus berkarya dan terus bertahan daripada hanya memikirkan bagaimana bisa mendapatkan uang yang banyak dari bermain band. Menurut Rekti, “Kalau ngeband dengan persepsi suksesnya materi, lebih baik cari kerjaan lain aja.” 

BIOGRAFI LINKIN PARK


siapa yang ga kenal band LINKIN PARK  kali ini saya akan sedikit mengulas biografi mereka.
Linkin Park adalah grup musik beraliran nu metal dan rock alternatif yang berasal dari Agoura Hills, California, di Amerika Serikat. Mereka sempat beberapa kali berganti nama, antara lain Xero, Hybrid Theory, hingga nama Linkin Park sampai sekarang. Nama "Linkin Park" sendiri merupakan plesetan dari nama sebuah taman di Los Angeles, Lincoln Park.

Sebelum Chester Bennington menjadi vokalis Linkin Park, Mark Wakefield lebih dulu menjadi vokalisnya. Namun, ia keluar dari Linkin Park untuk mencari proyek lain (menjadi manajer grup band Taproot)– saat itu menggunakan nama Hybrid Theory – untuk menjadi manajer grup musik Taproot. Bassis Dave Farrell alias "Phoenix" juga pernah keluar sebentar dari Linkin Park untuk mengikuti tur bersama band lamanya, Tasty Snax. Sedangkan 4 personel lainnya – Brad Delson, Mike Shinoda, Joe Hahn, dan Rob Bourdon – selalu bertahan di Linkin Park sejak awal pembentukannya.

Linkin Park telah merilis 5 album studio, yaitu Hybrid Theory, Meteora, Minutes to Midnight, A Thousand Suns, dan Living Things. Linkin Park juga merilis album Live in Texas, Reanimation, dan Collision Course, serta Hybrid Theory EP. Linkin Park sukses dalam memopulerkan lagu-lagunya seperti Crawling, In the End, Numb, Somewhere I Belong, dan What I've Done. Secara total, album-album Linkin Park telah terjual sebanyak 50 juta keping.

AWAL MULA TERBENTUK
Awal pembentukan Linkin Park yaitu pertemuan Mike Shinoda dan Brad Delson (gitaris Linkin Park) di kelas 7. Lalu mereka membentuk band bernama Xero. Brad juga bermain untuk band Relative Degree, salah satu personelnya yaitu Rob Bourdon (drummer Linkin Park). Mike berkenalan dengan Rob melalui Brad dan Rob bergabung dengan Xero. Saat kuliah, Brad berkenalan dengan Dave "Phoenix" Farrell (bassis Linkin Park) yang merupakan teman sekamar Brad. Mike, yang mengambil jurusan ilustrasi di Universitas Seni Pasadena, bertemu dengan Joe Hahn (turntablis Linkin Park). Kemudian, Dave Farrell dan Joe Hahn bergabung bersama Xero. Dave sempat meninggalkan Xero untuk bergabung kembali ke band lamanya, Tasty Snax.

Mulanya, mereka merekrut Mark Wakefield sebagai vokalis, lalu diambil alih oleh Chester Bennington (mantan vokalis Grey Daze) sampai sekarang, sedangkan Mike lalu jadi rapper. Sialnya, karena nama Xero sudah dipakai grup lain, mereka terpaksa mengganti nama menjadi Hybrid Theory. Lalu setelah ditolak 3 kali, Hybrid Theory berhasil diterima oleh sebuah perusahaan rekaman bernama Warner Bros. Records setelah sukses meluncurkan EP yang berjudul Hybrid Theory EP pada tahun 1999 sebanyak seribu keping. Namun, pada saat itu Mike sempat memiliki masalah dengan Jeff Blue, managernya. Jeff Blue mengatakan bahwa Mike tidak usah rapping, cukup bermain keyboard saja. Kejadian ini menginspirasi Mike untuk menulis lagu Get Me Gone (Fort Minor)

Sekali lagi, mereka terpaksa mengganti nama karena nama Hybrid Theory mirip dengan nama grup musik Hybrid yang berasal dari Wales. Daripada dianggap band yang sama, mereka memilih berubah nama lagi menjadi Linkin Park. Namun, sebelum bernama Linkin Park, mereka sempat mengganti namanya menjadi 0818. Nama ini juga baru diketahui pada pertengahan 2009, saat Brad Delson berbicara di acara wisuda di UCLA, Los Angeles, pertengahan 2009 lalu. Nama Linkin Park diambil Chester dari nama sebuah taman di Los Angeles, Lincoln Park. Agar bisa mengelola situs web sendiri, Chester mengubah ejaannya menjadi Linkin Park. Setelah itu, mereka berhasil membeli situs web 

GENRE MUSIK
Pada awal pembentukannya, Linkin Park beraliran rock. Setelah masuknya seorang DJ atau turntablis bernama Joe Hahn, Linkin Park mengganti alirannya menjadi hip-hop. Namun, pada album Hybrid Theory, Linkin Park mengganti lagi alirannya menjadi nu metal dan rapcore. Demikian juga pada album Meteora, hanya saja Linkin Park juga menambahkan unsur elektronika.

Pada album Minutes To Midnight, segalanya berubah total. Linkin Park benar-benar mengurangi unsur nu metal secara spesifik. Sebagai gantinya, Linkin Park menggunakan aliran alternative rock. Ini jelas sebuah eksperimen mengingat kesuksesan Linkin Park dengan genre nu metal dalam album sebelumnya. Tetapi, ternyata eksperimen itu berhasil.

PERSONIL LINKIN PARK
Anggota Sekarang
Chester Bennington – vokal
Rob Bourdon – drum
Brad Delson – gitar
Dave "Phoenix" Farrell – bass
Joe Hahn – turntable, keyboard , sampling
Mike Shinoda – backing vocal, sampling, rap, keyboard, gitar

Mantan Anggota
Mark Wakefield – Vokal
Scott Koziol – Bass (Stand-in)
Kyle Christener – Bass (Stand-in)
Ian Hornbeck - Bass (Stand-in)

DISKOGRAFI

Album Studio
  • Hybrid Theory - 24 Oktober 2000
  • Reanimation - 30 Juli 2002
  • Meteora - 25 Maret 2003
  • Minutes to Midnight - 15 Mei 2007
  • Songs From The Underground EP - 27 November 2008
  • A Thousand Suns - 14 September 2010
  • Living Things - 26 Juni 2012
  • The Hunting Party - 17 Juni 2014

Album Linkin Park Underground
  • LP Underground v1.0 (HTEP Re-release) (2001)
  • LP Underground v2.0 (2002)
  • LP Underground v3.0 (2003)
  • LP Underground v4.0 (2004)
  • LP Underground v5.0 (2005)
  • LP Underground v6.0 (2006)
  • LP Underground v7.0 (2007)
  • LP Underground v8.0 (2008)
  • LP Underground v9.0 (2009)
  • LP Underground X : Demos (2010)
  • LP Underground Eleven (2011)
  • LP Underground 12 (2012)

Album Konser
  • Live In Texas - 18 November 2003
  • Road to Revolution: Live at Milton Keynes - 24 November 2008
  • Live From SoHo (iTunes Exclusive EP) (2008)

Album singel
  • One Step Closer (2001)
  • Crawling (2001)
  • Papercut (2001)
  • In The End, Pt.1 (2001)
  • In The End, Pt.2 (2001)
  • In The End EP (2002)
  • Pts.of.Athrty (2002)
  • Somewhere I Belong (2003)
  • Faint (2003)
  • Numb, Pt.1(2003)
  • Numb, Pt.2 (2003)
  • From The Inside (2004)
  • Breaking The Habit (2004)
  • MTV Ultimate Mash-Ups Presents: Collision Course - Numb/Encore - Exlusive (2004)
  • Numb/Encore (2004)
  • What I've Done (2007)
  • Bleed It Out (2007)
  • Shadow Of The Day (2007)
  • Given Up (2008)
  • Leave Out All The Rest (2008)
  • New Divide (2009)
  • The Catalyst (2010)
  • Waiting For The End (2010)
  • Burning In The Skies (2011)
  • Iridescent (2011)
  • Burn It Down (2012)
  • Lies Greed Miserry (2012)
  • Lost In The Echo (2012)
  • Castle of Glass (2012)
  • A Light That Never Comes (2013)
  • Gulity All The Same (2014)
  • Until It's Gone (2014)
  • Wastelands (2014)
  • Rebellion (feat. Daron Malakian) (2014)
  • Final Masquerade (2014)
  • Album Demo[sunting | sunting sumber]
  • Hybrid Theory 8 Track Demo (1999)
  • Hybrid Theory 2 Track Demo (1999)
  • Hybrid Theory 9 Track Demo (1999)
  • Raw Power (2000)
  • The Wicked World Of Warner Bros./Reprise: Ozzfest Sampler 2000 (2000)
  • Hybrid Theory Sampler Tape (2000)
  • Linkin Park Sampler Tape (2000)
  • Album Remix[sunting | sunting sumber]
  • Reanimation - 30 Juli 2002
  • Collision Course - 30 November 2004
  • Recharged - 29 Oktober 2013

Referensi : WIKIPEDIA

Saturday, October 25, 2014

PROFIL & BIOGRAFI JOKOWI - PRESIDEN RI KE-7

BIODATA LENGKAP JOKOWI   

Nama Lengkap : Ir. H. Joko Widodo

Nama Alias : Jokowi

Agama : Islam

Tempat Lahir : Surakarta, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Rabu, 21 Juni 1961

Zodiac : Gemini

Hobby : Membaca | Traveling

Kebangsaan : Indonesia

Partai politik : Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

Istri : Ny. Hj. Iriana Joko Widodo

Anak : Gibran Rakabuming Raka - Kahiyang Ayu - Kaesang Pangarep

Alma mater : Universitas Gadjah Mada

Pekerjaan : Pengusaha

Akun Twitter : @jokowi_do2

Email : jokowi@indo.net.id



   BIOGRAFI LENGKAP JOKOWI   

 Mendengar nama Joko Widodo, tentu Anda pasti ingat dengan seorang gubernur yang suka blusukan. Sekarang ini nama Joko Widodo menjadi sangat terkenal dengan banyaknya para pakar yang menyebutkan jika dia adalah salah satu calon presiden yang paling potensial. Bahkan, banyak orang yang memprediksi jika dia adalah calon yang paling mungkin menang dalam pemilu tahun 2014. Dalam biografi Joko Widodo disebutkan jika dia lahir pada tanggal 21 Juni 1961 di kota Solo. Dia berasal dari keluarga yang cukup sederhana. Akan tetapi dengan kerja keras, membuat pria ini bisa sukses.

Dalam biografi Joko Widodo dikatakan jika menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota Solo. Dan setelah itu pada pendidikan tinggi, Jokowi memilih untuk belajar di UGM. Pada saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi memang tidak ada prestasi yang menonjol yang dilakukan oleh Jokowi. Setelah selesai kuliah, pria ini memilih untuk bekerja pada sebuah perusahaan. Akan tetapi dia tidak bertahan lama dan memilih untuk meneruskan usaha mebel yang dimiliki oleh keluarga. Dalam waktu yang cepat, usaha mebel yang dilakukan berhasil mendapatkan banyak keuntungan.

Pada tahun 2005 Jokowi terpilih menjadi walikota Solo. Ada banyak sekali prestasi yang sudah dilakukan pria ini di kota Solo. Karena melihat prestasi Jokowi yang bagus di kota Solo, pada tahun 2012 dia dicalonkan menjadi gubernur Jakarta. Dalam biografi Joko Widodo disebutkan, untuk menjadi gubernur Jakarta, Jokowi harus menghadapi perlawanan yang sengit dari lawan politiknya. Dengan kerja keras yang dilakukan, akhirnya Jokowi bisa menang dalam pilkada Jakarta.

Setelah menjadi gubernur Jakarta, tentu membuat pria ini semakin sibuk. Banyak sekali aktifitas yang harus dia lakukan. Tidak sedikit pula media yang membuat berita khusus akan Jokowi. Dengan popularitas yang semakin meningkat ini sudah pasti membuat banyak orang yang ingin Jokowi maju sebagai presiden. Pada tahun ini Jokowi resmi menjadi calon presiden dari partai PDI-P. Dengan maju sebagai calon presiden, pria ini menjadi semakin sibuk dan banyak musuh khususnya dalam dunia politik.

Tanggal 20 oktober 2014, sosok wong cilik yang dikenal dengan gaya blusukannya ini secara resmi di lantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7. Hari yang begitu bersejarah untuk bangsa Indonesia dimana banyaknya masyarakat yang ikut merayakan pengangkatan Presiden ketuujuh ini. Tidak hanya dalam kalangan masyarakat biasa, beberapa artis pun ikut merayakan dengan menggelar acara konser salam 3 jari di Monas, Jakarta. Saat ini masyarakat menanti kinerja sosok Presiden RI ke-7 ini hingga tahun 2019. Semoga dengan membaca biografi Joko Widodo ini bisa menambah wawasan Anda.

PENDIDIKAN JOKOWI   
  • SMP Negeri 1 Surakarta
  • SMA Negeri 6 Surakarta
  • Universitas Gajah Mada (UGM) Fakultas Kehutanan 


KARIR JOKOWI   
  • Walikota Surakarta (2005-2012)
  • Gubernur Jakarta (2012-2017)
  • Pengusaha mebel dan pertamanan

PENGHARGAAN JOKOWI   
  • Bintang Jasa Utama - Presiden Republik Indonesia
  • Piala Citra Bhakti Abdi Negara (2008-2009-2010) - Presiden Republik Indonesia
  • Agent of change Kemandirian - Dompet Dhuafa
  • Democracy Award: Manusia Bintang - RMOL
  • Decade Award: Rising Leader - Men's Obsession
  • E-government - Kemkominfo
  • Adiupaya Puritama - Kemenpera
  • Best City Award - Delgosea 
  • Pengendali inflasi - Bank Indonesia
  • Tata ruang kedua terbaik se-Indonesia - Kementrian PU 
  • Top 50 Leaders dari Fortune 
  • Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan - Kemennaker
  • Bung Hatta Anti Corruption Award - Meutia Hatta
  • Anti Gratifikasi - KPK
  • Program Perlindungan Anak - UNICEF Tahun 2006
  • Walikota No.3 Terbaik Dunia - The City Mayors Foundation
  • Social Media Award - Majalah Marketing & Frontier Consulting Group
  • 10 Tokoh Pilihan Tahun 2008 - Tempo
  • Tokoh Pluralis Tahun 2013 - dari Lembaga Pemilih Indonesia
  • Tokoh Seputar Indonesia Tahun 2013 - Anugerah Seputar Indonesia
  • Good Governance Award (20 September 2012) - Soegeng Soerjadi
  • Pencapaian target MDGs Untuk program KJP dan KJS - Bappenas
  • Pangripta Nusantara Utama - Bappenas
  • Nominasi World Mayor Tahun 2012

Sunday, June 8, 2014

BIOGRAFI KURT COBAIN : VOKALIS BAND NIRVANA

Siapa yang tidak kenal Kurt Cobain, bagi mereka pecinta musik aliran Grunge pasti tau nama satu ini. meski Kurt Cobain telah tiada fans fanatiknya masih ada sampai saat ini.

Kurt Donald Cobain atau yang lebih dikenal dengan nama Kurt Cobain lahir tanggal 20 Februari 1967 merupakan penyanyi dan musisi dari Amerika Serikat yang lahir di Aberdeen, Washington, AS. Ia merupakan gitaris dan juga vokalis serta pembentuk grup band grunge, Nirvana. Kurt Cobain dikenal sebagai sosok yang pendiam, tempramen dan juga emosional. Rasa frustrasi dan depresi yang sering ia alami-lah yang membuat dia terjun ke dunia musik. Bahkan suatu ketika, Kurt Cobain pernah mengajak Axl Rose (vokalis Guns N Roses) untuk berduel di atas panggung. Kurt Cobain sangat membenci hidupnya dan selalu merasa frustrasi. Dia pernah mengatakan, “I hate myself and I want to die”. Rasa kebencian dan frustrasinya-lah yang membuat dia masuk ke dunia musik. Dia ingin menuangkan ungkapan rasa frustrasi tersebut ke dalam lagu dan musik yang keras dan kemudian dikenal dengan musik grunge. Kegilaannya membuat dia digilai oleh fans fanatiknya di seluruh dunia. Kurt Cobain menjadi simbol musik grunge yang akan selalu dikenang oleh penggemar musik, teristimewa penggemar band Nirvana. Mungkin tidak banyak yang mengetahui seluk-beluk kehidupan sang Legenda. Ia akhirnya ditemukan tewas tahun 1994. Selama ini diketahui bahwa penyebab kematiannya adalah karena bunuh diri. Shotgun ditemukan didekat jenazahnya. Namun, kematiannya masih merupakan konspirasi yang hingga saat ini masih hangat dibicarakan, terutama oleh fans fanatiknya. Kematian sang legenda diikuti dengan bunuh diri massal yang dilakukan oleh penggemar fanatiknya sebagai rasa empati terhadap sang legenda.

Masa Kecil & Masa Remaja:

Sejak usia balita, Kurt Cobain sudah mulai memainkan alat musik. Di umur 4 tahun ia mulai menyanyikan lagu-lagu buatannya secara spontan setelah berkunjung di taman-taman sekitar tempat tinggalnya. Di usia 9 tahun, orang tua Kurt Cobain cerai. Perceraian tersebut membuatnya merasakan hal yang sangat memalukan dalam hidupnya. Ia bahkan malu dengan teman-teman sekolahnya karena keluarganya hancur oleh perceraian. Hal tersebut yang membuat masa kecilnya menjadi suram. Di usia remaja dia mulai bertingkah seperti orang dewasa. Dia mulai melakukan kekerasan dalam sekolah (bullying) terhadap teman-teman sekolahnya. Sejak kecil dia sudah mulai mendengarkan lagu-lagu The Ramones dan The Beatles. Meski tidak memiliki ketertarikan di bidang olah raga, Kurt Cobain dulunya merupakan seorang pegulat yang memiliki skill lumayan baik. Bakat seninya memang sudah terlihat sejak muda. Ia pernah menghabiskan waktu di masa sekolah untuk melukis. Dia pernah melukis karikatur Michael Jackson dan presiden AS saat itu, Ronald Reagen. Kurt Cobain memiliki bakat luar biasa teristimewa di bidang seni. Ia kemudian mempelajari gitar di saat dia masih duduk di bangku sekolah. Beberapa pengaruh musisi di era 60 hingga 70-an menjadi pengaruh terbesar bagi perkembangan permainan dan pengetahuan musiknya.

Kekasih di Masa Muda:

Tracy Marander (pengaruh besar terciptanya lagu “About A Girl”)
Tobi Vail (pengaruh besar terciptanya lagu “Aneurysm”)
kurt_cobain3Pengaruh Musik:

Pengaruh musik Kurt Cobain saat masih kanak-kanak adalah The Beatles, di mana bibinya sering memutarkan lagu ‘Hey Jude’ saat Kurt Cobain masih kecil. Selain itu, Kurt Cobain sangat tergila-gila dengan musik rock klasik era 70-an seperti Queen, Led Zeppelin, Aerosmith, Black Sabbath, Kiss, AC/DC, dan sebagainya. Seiring waktu, pemahaman musik dan favoritnya mulai berganti. Ia pernah menjadi fan fanatik musik punk rock. Ia sangat mengidolakan band asal Britania Raya, Sex Pistols. Ia juga menyukai musik alternative rock, yang bisa memadukan berbagai aliran ke dalam musik rock sebagai musik dasar yang ia sukai. Kurt Cobain suka mendengarkan banyak lagu, dan menyukai berbagai macam aliran musik. Dia lebih condong ke aliran punk rock, hingga pada akhirnya menciptakan aliran musik sejenis grunge dengan band-nya Nirvana.

Kurt Cobain & Nirvana


nirvana-mobile-wallpaperDi masa-masa ia duduk di bangku sekolah, ia mencari-cari teman yang bisa diajak bermain musik bersama. Ia sering pindah tempat tongkrongan hanya untuk menyalurkan bakat musiknya dan bermain bersama dengan teman sepermainannya saat itu. Ia lalu bertemu dengan Krist Novoselic, yang merupakan penggemar berat punk rock. Ibu Krist memiliki salon kecantikan, dan mereka sering bermusik bersama di lantai atas salon tersebut. Lama-kelamaan mereka menemukan kecocokan musik satu sama lain. Kurt Cobain pernah menawarkan Krist untuk membentuk grup band bersama, dan mengajukan lagunya sebagai demo dari band-nya yang sebelumnya. Setelah tawaran berbulan-bulan, Krist Novoselic akhirnya setuju. Mereka berdua kemudian bergabung untuk membentuk band yang kemudian disebut ‘Nirvana’.

Di masa muda Kurt Cobain, ia percaya dengan konsep Buddha terhadap sebutan ‘Nirvana’ yang memiliki arti bebas dari segala rasa sakit dan tempat merasakan kebahagiaan. Sebutan itulah yang ia pakai untuk nama band-nya.

Nirvana sepanjang karirnya sering sekali berganti drummer, hingga akhirnya menemukan Dave Grohl di tahun 1990 hingga pada akhirnya Nirvana bubar tahun 1994 setelah kematian Kurt Cobain.

Di awal karir Nirvana sebagai sebuah grup band profesional, Nirvana memakai jasa produser lokal untuk memproduseri album debut mereka, Bleach. Album tersebut dipengaruhi oleh musik-musik heavy metal dan juga punk. Nirvana pada akhirnya mulai dikenal dan digemari oleh pecinta musik sejak dirilisnya album Nevermind di tahun 1991. Album tersebut merupakan satu kebanggaan besar Nirvana karena dapat menggeser album Dangerous-nya Michael Jackson di tangga lagu Billboard Amerika Serikat. Nevermind meraih posisi pertama di Billboard, dengan single luar biasa dari luapan emosi Kurt Cobain yang dituangkan dalam lagu Smells Like Teen Spirit. Dalam album tersebut ada juga lagu yang bakal dikenang seperti Come As You Are dan juga Breed.

“Smells Like Teen Spirit” sendiri terinspirasi dari tulisan temannya yang saat itu sedang berdiskusi tentang anarki, punk rock dan topik-topik yang serupa. Temannya itu bernama Kathleen Hanna yang merupakan penyanyi dari band punk Bikini Kill. Dia mencoret dinding tempat tinggal Kurt Cobain dengan tulisan “Kurt Smells Like Teen Spirit.” Teen Spirit sendiri merupakan nama sebuah merek deodoran, dan ia berkata bahwa Kurt Cobain baunya seperti deodoran Teen Spirit tersebut. Kurt Cobain menganggap bahwa kalimat tersebut memiliki arti revolusioner, dan terinspirasi mengungkapkan perasaannya dengan lagu yang berjudul “Smells Like Teen Spirit.”

Kesuksesan besar-besaran mengikuti Nirvana. Penggemar beratnya ada dimana-mana termasuk di Indonesia. Kurt Cobain dan Nirvana dianggap sebagai bentuk revolusi musik dengan grunge-nya yang saat itu masih baru. Meski memiliki komponen rock dan punk yang sangat kental, grunge memiliki bentuk sendiri yang menjadi khas musik Nirvana yang akan dikenang.

Sampai Nirvana bubar, mereka hanya merilis 3 studio album yaitu Bleach (1989), Nevermind (1991), In Utero (1993). Nirvana bubar saat Kurt Cobain diketahui telah tewas bunuh diri di tempat tinggalnya. Karir musik gemilang Nirvana berhenti begitu saja sejak tewasnya sang vokalis dan gitaris, meninggalkan karya musik yang luar biasa.

Nirvana resmi bubar tahun 1994 karena kematian Kurt Cobain. Sejak terbentuknya mereka telah berhasil menjual 50 juta keping album di seluruh dunia, dan lebih dari 20 juta keping di Amerika Serikat. Berbagai penghargaan pernah mereka raih sebagai album nomor 1, single nomor satu juga MTV Music Awards.

Kurt Cobain & Courtney Love

Mereka pertama kali bertemu di klub malam kota Portland pada tahun 1990. Courtney Love pernah sekali menonton pertunjukan Nirvana tahun 1989 dan langsung menyimpan perasaan terhadap Kurt Cobain. Keduanya kemudian sering kencan dengan obrolan yang tidak jauh-jauh dari dunia musik.

Lama-kelamaan ‘cinta’ itu pun melekat di keduanya. Dan tidak lama mereka berpacaran, Courtney Love diketahui hamil, mengandung anaknya Kurt Cobain. Mereka pun kemudian menikah di tahun 1992 dan tidak lama setelah itu lahirlah anak pertama dan satu-satunya yang diberi nama Frances Bean Cobain di bulan Agustus 1992.

Kegilaan mereka berdua sebagai pasangan suami istri adalah ketika Courtney mengandung. Mereka berdua sama-sama memakai obat-obatan terlarang padahal dalam kondisin mengandung. Nge-drugs sana-sini padahal sedang mengandung. Banyak orang beranggapan bahwa anak yang dikandung bisa mati dalam kandungan dan bisa saja terlahir dengan cacat juga kecanduan narkoba. Pasangan tersebut dinilai sebagai pasangan yang ‘berbahaya’. Kegilaan mereka dalam mengkonsumsi obat terlarang menjadikan mereka sebagai topik berita utama di koran dan majalah pada saat itu.

Sebagai pasangan suami-istri, mereka tidak harmonis. Mereka sering bertengkar. Dan menurut yang pernah saya baca, konspirasi menyebutkan bahwa istrinya ada di balik kematian sang legenda.

Kematian Kurt Cobain & Konspirasinya

27991-09034331102011kurt-cobain-photoSaat tur Nirvana di Jerman tahun 1994, Kurt Cobain didiagnosa mengidap bronkhitis dan juga laringitis. Keesokan harinya Kurt Cobain diterbangkan ke Roma untuk terapi medis, dan disusul oleh istrinya. Saat mereka menginap setelah bangun Courtney Love menemukan Kurt Cobain dalam kondisi overdosis sampanye dan campuran Rohypnol.

Beberapa waktu kemudian saat Kurt Cobain berada dalam sebuah rumah sakit untuk penyembuhan, ia diketahui kabur dari rumah sakit dan kembali ke kota Seattle. Berbagai pencarian dilakukan di sekitar kota Seattle hingga akhirnya jenazah Kurt Cobain ditemukan di tempat tinggalnya oleh ahli listrik yang hendak memperbaiki sistem keamanan di apartemennya. Ditemukan juga shotgun mengarah ke dagunya dan heroin serta jenis narkoba lain di dekat tubuhnya. Catatan kecil juga ditemukan di dekat jenazahnya. Darah berceceran dimana-mana, termasuk mengalir dari telinganya. Kurt Cobain diketahui bunuh diri dengan menembakkan shotgun ke dalam mulutnya. Jenazahnya ditemukan tanggal 8 April 1994.

Menurut identifikasi forensik, Kurt Cobain diketahui telah meninggal beberapa hari sebelum mayatnya ditemukan. Tepatnya ia tewas tanggal 5 April 1994, 3 hari sebelum kematiannya ditemukan. Namun ia diketahui tidak sadarkan diri karena obat-obatan yang ia konsumsi, dan tidak memungkinkan ia sanggup membunuh dirinya sendiri.

Konspirasi kematiannya masih menjadi cerita menarik. Ada yang bilang bahwa dia tidak akan sanggup mengarahkan shotgun ke arah mulutnya dan menari pelaruknya. Karena dalam kondisi yang tidak sadarkan diri dan sedang berhalusinasi. Oleh karena itulah dikatakan ia tidak akan sanggup menembak dirinya sendiri. Ada juga yang bilang ia dibunuh oleh istrinya sendiri yang memang sering bertengkar dengannya. Saat itu Kurt Cobain bersama Nirvana sedang mengalami puncak ketenaran, dimana-mana terdapat tawaran bermusik dan dicintai penggemarnya. Courtney Love takut diceraikan oleh Kurt Cobain, dan jika mereka cerai harta Kurt Cobain akan diwariskan dengan anaknya. Saat itu Kurt Cobain dan Nirvana sedang menikmati masa kesuksesan yang membuat mereka kaya raya dan bergelimpangan harta. Oleh karena itulah Courtney Love diduga sengaja menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Kurt Cobain agar hartanya jatuh ke tanggannya. Terbukti, setelah kematian Kurt Cobain berbagai uang untuk meliput beritanya serta membongkar fakta, hasil tribute-tribute yang dilaksanakan menjadi milik Courtney Love.

Tetapi, konspirasi tetaplah konspirasi jika tidak ada bukti yang memadai. Kurt Cobain tewas tahun 1994 dengan bunuh diri sebagai penyebab yang sampai sekarang diketahui masyarakat umum. Kematiannya diikuti dengan kematian penggemar beratnya yang melakukan aksi bunuh diri massal sebagai bentuk rasa empati terhadap sang legenda.

Kurt Cobain meninggalkan karya yang luar biasa yang akan selalu diingat, meninggalkan istri dan anak tunggalnya dan juga meninggalkan Nirvana.

Luapan emosi yang sebenarnya menjadi tekanan bagi dialah yang membuat ia terjun ke dunia musik. Ia menuangkan ungkapan depresinya ke musik yang pada akhirnya membuat hal di luar dugaannya terjadi. Ia menjadi terkenal karena musiknya yang berdampak semakin depresinya dia. Dia seakan semakin gila karena banyak yang menyukai lagu dan musiknya, dan semakin banyak yang mencintai dan menggemari dia. Itulah hal-hal yang membuat dia semakin frustrasi dan semakin banyak mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan juga minuman beralkohol.


Saturday, May 31, 2014

BIOGRAFI LED ZEPPELIN

Led Zeppelin adalah kelompok musik rock dari Inggris yang dibentuk bulan September 1968, dan dibubarkan setelah pemain drum John Bonham meninggal. Led Zeppelin terdiri dari Jimmy Page, Robert Plant, John Paul Jones, dan John Bonham. Dengan musiknya yang menonjolkan suara gitar yang keras dan berat, Led Zeppelin dianggap sebagai salah satu band heavy metal yang pertama. Sebagian besar lagu-lagu mereka merupakan interpretasi musik blues dan folk yang diberi nuansa rock, termasuk rockabilly, reggae, soul, funk, jazz, musik klasik, musik Kelt, musik India, musik Arab, musik pop, musik Amerika Latin, dan musik country.

Led Zeppelin tidak pernah merilis singel dari lagu-lagunya yang menjadi populer di Britania Raya. Alasannya, mereka lebih menyukai konsep musik rock berorientasi album.

Setelah 25 tahun bubar akibat meninggalnya John Bonham pada tahun 1980, Led Zeppelin tetap disanjung penggemar musik berkat pencapaian artistik, kesuksesan komersial, dan pengaruhnya yang luas di kalangan musisi rock. Hingga saat ini, album Led Zeppelin telah laku lebih dari 300 juta keping,[8] di antaranya, 109,5 juta keping laku di Amerika Serikat, dan menjadi satu-satunya grup musik yang berhasil menempatkan semua albumnya ke dalam urutan Top 10 tangga album Billboard. Selain itu, Led Zeppelin menempati urutan nomor satu dalam Daftar 100 Artis Hard Rock Terbesar (100 Greatest Artists of Hard Rock) versi VH1.

Pada 10 Desember 2007, tiga orang anggota Led Zeppelin mengadakan konser reuni yang dipersembahkan untuk Ahmet Ertegün di The O2, London.

Biografi

Led Zeppelin adalah kelompok musik rock legendaris asal Inggris yang dibentuk pada September 1968. Personel Led Zeppelin saat itu terdiri dari Jimmy Page, Robert Plant, John Paul Jones dan John Bonham.

Musik-musik Led Zeppelin menonjolkan suara gitar yang keras dan berat dan dianggap sebagai salah satu band heavy metal pertama. Band ini juga tercatat tidak pernah merilis lagu single, kecuali dalam bentuk album.

Led Zeppelin kemudian bubar setelah pemain drum John Bonham meninggal pada 1980. Namun demikian musik-musiknya melegenda dan tetap dicintai pengemarnya. Bahkan album Led Zeppelin telah terjual lebih dari 300 juta keping.

Sementara itu, tiga orang anggota Led Zeppelin, masing-masing Robert Plant (vokal), Jimmy Page (gitar) dan John Paul Jones (bass) mengadakan konser reuni di The O2, London pada 10 Desember 2007. Dalam konser yang ditonton 20.000 penonton itu, juga mengajak putra John Bonham, Jason.


Anggot
Jimmy Page — gitar
Robert Plant — vokal utama, harmonika
John Bonham — drums
John Paul Jones — bas, keyboards, mandolin

Sumber : wikipedia

Sunday, March 30, 2014

PROFIL VIRZHA - FINALIS INDONESIAN IDOL 2014

finalis satu ini memang patut diperhitungkan di ajang pencarian bakat tahun ini yaitu INDONESIAN IDOL 2014. kali ini saya akan mencoba mengulas profil peserta Indonesian Idol yang dikenal dengan goyang ngangkangnya..heheeeheh yaitu VIRZHA 

Profil VIRZHA - Peserta yang memiliki nama lengkap Di Muhammad Deverzha ini teramasuk pria pendiam namun memiliki suara dan penampilan yang menarik hingga tanpa ragu juri memilihnya maju ke Babak Spektakuler. Pada tahap audisi pertama Indonesian Idol 2014 Virzha Idol membuat juri Anang Hermansyah terkesan dengan penampilannya. Anang berujar jika dirinya senang melihat cara menyanyi Virzha Idol dan memberikannya golden tiket. Selain Anang, Tantri Kotak dan Ahmad Dhani juga menyukai penampilan Virzha Idol, karena ia memiliki penampilan yang unik serta kecintaannya pada lagu-lagu lama, menjadikan dirinya berbeda dari kontestan lainnya. Virzha Idol bisa dibilang pantas untuk diperhitungkan calon juara yang kuat di event Indonesian Idol 2014 ini karena mempunyai skill bernyanyi yang cukup bagus dan penampilan yang khas banget. yang jelas suaranya nge rock abissssss \m/.......

Profil Biodata Virzha Idol
 Nama Lengkap : Di Muhammad Deverzha
Nama Panggilan : Virzha
Tempat, Tanggal Lahir : Aceh 1990
Umur : 23 Tahun
Agama : Islam
Profesi : Freelance
Asal : Banda Aceh
Asal Audisi : Medan
Status : - 
Akun Twitter : http://twitter.com/VirzhaIDOL8
Akun Facebook : https://www.facebook.com/VirzhaIdol8

Kalo memang kalian jagokan si goyang ngangkan VIRZHA makan jangan lupa dukung dia supaya bisa tetap bertahan dan menang di ajang pencarian bakat INDONESIAN IDOL 2014

Friday, March 28, 2014

PROFIL HUSEIN - FINALIS INDONESIAN IDOL 2014


sekarang ini siapa yang tidak kenal Husein Alatas bagi sebagian penggemar acara Indonesian Idol 2014 nama Husein Alatas Idol mungkin telah menjadi idola baru untuk mereka yang suka musik rock terutama aliran metalm di Ajang Pencarian bakat bernyanyi  Indonesian Idol berhasil membuat para juri memujinya, karakter vocal Rock yang kuat melekat erat di nyanyian-nyaian Husein Alatas berbekal pengalaman sebagai vocalis band Rock Metal "Children of Gaza".

finalis satu ini siap mengguncang panggung SPEKTAKULER SHOW di INDONESIAN IDOL 2014 dengan gaya khasnya yang kental akan musik metal rock  \m/.

Profil / Biodata  Husein Alatas Idol

Nama Lengkap: Husein Alatas

Nama Panggilan: Husein, Anis

Tahun Kelahiran : 1989

Umur: 24 tahun

Agama : Islam

Status : Single

Hobi: Bernyanyi, Main Band

Pekerjaan: Vokalis Band

Akun twitter : @HusinIDOL8

Akun Facebook : www.facebook.com/HuseinIdol8

agar si HUSEIN bisa tetap bertahan dan menang di INDONESIAN IDOL 2014 jangan lupa di vote yach teman-teman....keepp metal rock mannnn............\m/ 

Saturday, January 25, 2014

The Winery Dogs - Band Yang di Usung Mike Portnoy dan Billy Sheehan


siapa yang tidak kenal Mike Portnoy dan Billy Sheehan, mereka adalah musisi hebat abad ini, dan mereka telah membentuk band baru yang mereka sebut The Winery Dogs

The Winery Dogs, sebuah group band baru asal Amerika Serikat telah memperkenalkan penayangan video single pertamanya beberapa hari lalu. Group band yang personilnya [Ritchie Kotzen – Vokal, Gitar + Mike Portnoy – Drum + Billy Sheehan – Bass, Vokal] sudah tidak asing lagi di telinga pecinta musik dunia ini memperkenalkan single ketiga berjudul “I’m No Angel” yang merupakan lagu atau single trio The Winery Dogs yang di rilis pada Juni 2013 ini setelah sebelumnya mereka merilis dua single plus video klip yang berjudul “Desire” dan “Elevate”. Winery Dogs rencananya akan segera merilis full album di bawah bendera label Loud And Proud records yang di bidani oleh Jay Ruston [Anthrax, Stone Sour, Steel Panther] sebagai produsernya, pada 23 Juli 2013 mendatang.

The Winery Dogs adalah sebuah proyek baru grpu band yang menampilkan Mike Portnoy [Ex Dream Theater, Avenged Sevenfold, Adrenaline Mob], Billy Sheehan [MR. BIG] dan Richie Kotzen [MR. BIG], Sheehan dan Portnoy adalah yang pertama kali mempunyai ide untuk membuat group band pada akhir tahun 2011 sebelum akhirnya mereka sepakat untuk mengajak Kotzen bergabung. Sebelumnya posisi yang di isi Kotzen ini adalah milik John Sykes [Whitesnake, Thin Lizzy dan Blue Murder], namun Sykes nampaknya mempunyai kesibukan yang membuatnya pergi dari The Winery Dogs walaupun mereka bertiga sudah sempat membuat demo – demo lagu mereka tahun 2011 itu.

Mike Portnoy, Billy Sheehan dan Richie Kotzen menggambarkan bahwa warna musik yang mereka usung di The Winery Dogs ini adalah semacam kekuatan suara trio klasik seperti sound group band klasik sejenis Led Zeppelin, Cream, Jimi Hendrix dan Grand Funk Railroad yang di gabung dengan sound – sound unik milik Alice In Chains, Soundgarden, Black Crowes plus Lenny Kravitz. Dalam kolaborasi trio ini Kotzen di plot sebagai penyanyi utama di bantu Sheehan dan Portnoy sebagai penyanyi latarnya. Untuk album perdana yang bulan depan akan di rilis secara internasional plus langsung di lanjutkan dengan tour Amerika.

sukses selalu buat mereka dan selalu menyajikan karya yang bisa meraih penghargaan

Wednesday, December 11, 2013

Biografi Iron Maiden

Iron Maiden adalah kelompok musik heavy metal yang didirikan pada 1975 di London, Britania Raya oleh pemain bas Steve Harris. Mereka telah meraih kesuksesan dan memengaruhi banyak kelompok musik lainnya. Mereka juga dianggap sebagai salah satu band dalam New Wave of British Heavy Metal.
 Sejarah awal Iron Maiden bermula dari hari natal yang berlangsung tahun 1975. Steve Harris (bas) telah meninggalkan band sebelumnya yaitu Smiler.Kemudian Harris ingin membentuk band yang namanya mengadaptasi dari The Man in The Iron Mask, sebuah novel karya Alexandre Dumas. Dalam novel tersebut dikisahkan tentang hubungan yang verbal alat penyiksa bernama Iron Maiden. Harris lalu menghubungi penyanyi Paul Day yang telah dimotivasi olehnya sebagai sumber energi penuh karisma di panggung. Namun tak lama kemudian posisinya digantikan oleh Dennis Wilcock, seorang penggemar Kiss. Teman Wilcock yaitu Dave Murray diundang untuk bekerja sama. Sementara di band itu telah memiliki duo gitaris Dave Sullivan dan Terry Rance. Mereka frustasi membiarkan Harris secara temporer merombak band di tahun 1976. Sebelumnya, grup ini mengalami reformasi setelah peran gitar dipegang oleh Dave Murray. Hingga akhirnya Steve Harris dan Dave Murray menjadi personel tetap di Iron Maiden.
    
Namun pada tahun 1977, Iron Maiden kembali merekut gitaris lainnya yaitu Bob Sawyer. Ketegangan sempat muncul ketika terjadi perpecahan antara Murray dengan Wilcock. Murray marah setelah tahu bahwa persoalan dengan Wilcock itu didorong Harris untuk membakar kerjasama kedua gitaris yaitu Murray dan Sawyer. Sayang, formasi kembali berubah saat tampil di panggung kecil di Bridgenhouse pada bulan November 1977 dengan melibatkan Tony Moore pada kibor, Terry Wapram pada gitar, dan drummer Barry Purkis setelah sebelumnya dijabat Ron Matthews, merupakan formasi yang dibentuk Harris, termasuk melibatkan Dave Murray dan Doug Sampson sebagai drummer.
     
Pada tahun 1978 merupakan kesempatan untuk melihat aksi vokalis baru Paul Di'Anno di Pub Red Lion kawasan Leytonstone. Steve Harris telah mengatakan bahwa kualitas vokal Paul adalah minim, akan tetapi semua orang pasti akan mengatakan bahwa dia penyanyi dengan aksi yang baik. Setelah bermain selama dua - tiga tahun, dunia rekaman mulai dilirik. Namun pada tahun baru 1978 band ini telah merekam EP. Judul EP tersebut adalah The Soundhouse Tapes yang menyajikan empat lagu, hingga EP tersebut terjual hingga 5000 copy dalam seminggu. Komposisi "Prowler" di EP tersebut menduduki posisi pertama di Neal Kay's Heavy Metal Soundhouse Chart melalui Majalah Sounds. Penampilan mereka yang pertama di dunia rekaman juga termuat dalam album kompilasi Metal for Muthas yang dirilis pada tanggal 15 Februari 1980.  Pada album itu mereka menyisipkan dua lagu versi awal dari lagu "Sanctuary" dan "Wrathchild".
     
Lagi-lagi di tubuh grup terjadi pergantian personel. Dave Murray akhirnya, harus kehilangan teman gitarisnya pada tahun 1978. Beruntung Paul Cairns menjadi rekan gitaris mulai tahun 1979. Namun tak berlangsung lama karena saat akan masuk ke studio, Cairns memilih hengkang. Posisinya, lalu digantikan oleh Dennis Stratton. Semula mereka akan mengajak teman masa kecil Murray yaitu Adrian Smith. Namun Smith saat itu masih sibuk dengan keinginannya membentuk band bernama Urchin. Kemudian posisi drummer yang semula dipegang Doug Sampson, digantikan oleh Clive Burr (dibawa oleh Stratton). Pada bulan Desember 1979, Iron Maiden mulai menandatangani kontrak rekaman dengan EMI. Hingga akhirnya, pada tahun 1980 merilis album berjudul Iron Maiden.
     
Album pertama ini mampu menduduki posisi ke-4 di Inggris dalam minggu pertama saat dirilis. Dan sejak saat itu mereka dijuluki sebagai The New Wave of Brittish Heavy Metal. Album banyak menghasilkan beberapa lagu favorit yaitu "Running Free", "Transylvania", "Phantom of The Opera", dan "Sanctuary". Sayang, hanya dirilis di Inggris, sementara di Amerika dirilis belakangan. Lagu "Running Free" dibuka dengan hentakan drum Clive dalam irama swing rock up tempo sepanjang 2 bar, kemudian disusul dentaman bas Harris sepanjang 4 bar. Setelah Paul memberi aba2 muncul genjrengan gitar dari Murray sepanjang 2 bar hingga vokal Paul masuk ke bagian verse. Pada bagian reffrain kedua muncul harmonisasi vokal lalu di bagian jeda Murray menunjukkan kecepatan bermain gitarnya, selain rif2 gitar yang dibangun Stratton berselingan dengan genjrengan gitar dari Muray. Kemudian pada lagu "Transylvania" dibuka dengan permainan patern gitar nan rapat dari Murray yang berselingan dengan dentaman bas Harris dan hentakan drum Clive. Kemudian musik pada lagu ini meluncur dalam irama swing rock mid tempo. Komposisi "Phantom of The Opera" dibuka dengan permainan gitar Murray yang seolah memainkan nada2 pentatonik mirip nada-nada pentatonik Jawa sepanjang 4 bar, kemudian disusul dengan permainan gitar Stratton yang berlanjut ke pola musik berirama swing rock up tempo. Saat vokal Paul masuk dibagian verse berunision dengan permainan gitar Murray. Pada lagu "Sanctuary" dibuka dengan rif2 gitar yang mencoba mengingatkan pada intro lagu "Burn" nya Deep Purple termasuk hentakan irama musiknya yang berbirama 2/4 up tempo. 
     
Usai merilis album pertama itu, mereka langsung menggelar tour dan sempat menjadi band pembuka konser Kiss dalam Unmasked Tour's European. Mereka juga menjadi band pembuka konser Judas Priest. Setelah menggelar tour tersebut Stratton memilih mengundurkan diri dari grup dan posisinya digantikan oleh Adrian Smith pada bulan Oktober 1980. Bersama Smith, Iron Maiden merilis album kedua pada tahun 1981 berjudul Killers. Album ini berisi beberapa track yang ditulis saat penggarapan album pertama. Karena kelebihan materi itu, kemudian dengan lagu-lagu yang telah disiapkan digabungkan dengan beberapa lagu yang digarap saat tour. Hanya dua lagu yang benar-benar baru dan ditulis saat penggarapan album yaitu "Prodigal Son" dan "Murder in The Rue Morgue". Lagu "Prodigal Son" dibuka dengan petikan gitar rhytm dari Smith sepanjang 4 bar, kemudian diulang lagi sepanjang 4 bar dengan iringan hentakan drum dari Clive. Lalu musik pada lagu ini mengalir dalam birama 6/8 yang mengandalkan genjrengan gitar kedua gitaris itu, serta tentu saja dentaman bas Harris. Sedangkan lagu "Murder in The Rue Morgue" dibuka dengan petikan gitar Smith berdampingan dentaman bas Harris. Lalu Clive mulai memainkan snare drumnya untuk memasukkan fil in yang mengarah pada irama slow bit funk mengiringi drive2 gitar yang dibangun Murray. Saat vokal Paul masuk ke bagian verse, pola musiknya berubah menjadi rock up tempo. Sayang, kerjasama Paul tidak berlangsung lama di Iron Maiden. Akibat kecanduan drugs, meskipun dia telah menciptakan demo untuk album Iron Maiden berikutnya, toh posisinya kemudian digantikan oleh Bruce Dickinson dari Samson. Bruce mulai bergabung dengan Iron Maiden setelah proses audisi di akhir tahun 1981.
     
Bruce mulai terlibat rekaman bersama Iron Maiden pada tahun 1982 lewat album The Number of The Beast. Album ini mampu menduduki posisi pertama di Inggris dan diikuti dengan negara-negara lainnya. Album ini mengandalkan komposisi "Children of Damned" yang dibuka dengan petikan gitar rhytm Smith sepanjang 4 bar. Kemudian disusul dengan hentakan musik slow bit funk yang diisi drive-drive gitar Murray sepanjang 2 bar hingga vokal Bruce masuk ke bagian verse.  saat masuk ke bagian bridge, pola musiknya berubah  melalui ketukan drum Clive yang mengarah pada irama rock up tempo. Lagu lain dari album ini misalnya "Total Eclipse". Lagu ini dibuka dengan hentakan musik slow bit funk dengan hiasan rif2 gitar Murray sepanjang 8 bar. Kemudian disusul dengan patern bas Harris yang rapat melatari rif2 gitar Murray sepanjang 6 bar. Lalu disusul dengan hentakan musik rock up tempo yang mengiringi vokal Bruce di bagian verse. Gaya menyanyi Bruce pada lagu ini mirip orang membaca puisi, seolah tanpa nada. Bagian jeda lagu ini menyanjikan irama swing rock up tempo dengan diisi permainan gitar yang cepat dari Murray dan Smith lalu masuk ke bagian bridge diiringi hentakan musik slow bit funk. 
     
Untuk kali kedua band ini menggelar tour dunia ke Amerika, Kanada, Jepang, Australia, Jerman, dan Inggris. Dengan formasi terbaru tersebut yang diperkenalkan ke publik Inggris, kemudian membawa mereka ke acara Reading Rock Festival pada malam sabtu di bulan Agustus 1982. Sedangkan album mereka sendiri terus mencetak sukses dan terjual hingga 14 juta copy di seluruh dunia. Sementara tour The Number of The Beast di Amerika sempat memunculkan persoalan di kalangan dunia politik Amerika. Mereka sempat dituduh sebagai penyebar ajaran setan melalui lagu-lagunya. Para aktifis agama kemudian memprotes kehadiran mereka. Persoalan lain adalah Bruce saat itu masih memliki legalitas yang rumit dengan manajemen Samson, yang tidak diizinkan untuk menambahkan namanya dalam deretan penulis lagu. Akan tetapi, dia masih bisa menambahkan sumbangan idenya ke beberapa lagu seperti "Children of The Damned". "The Prisoner" dan "Run To The Hills".
     
Persoalan demi persoalan terus menyelimuti Iron Maiden beriringan dengan kesuksesan mereka. Pada bulan Desember 1982, drummer Clive Burr memilih mengundurkan diri karena terbentur dengan schedule tour dengan persoalan pribadinya. Posisinya, kemudian digantikan oleh Nicko McBrain yang sebelumnya pernah bergabung dalam Trust. Segera setelah itu, mereka melakukan perjalanan ke Bahamas untuk merekam materi album di Compass Point Studio. Sepanjang tahun 1983 mereka merilis Piece of Mind yang berhasil merangsek ke posisi 3 di Inggris, dan di Amerika berhasil menduduki posisi ke-70 dalam Billboard 200. Album ini sekaligus menerbitkan singel "Flight of The Icarus", dan "The Trooper".
     
Komposisi "Flight of The Icarus" menyajikan irama rock mid tempo dengan hiasan rif2 gitar Murray nan kental dan bagian reffrain lagu ini menyajikan harmonisasi vokal nan manis. Nyaris mirip dengan "Perfect Stranger" nya Deep Purple. Sedangkan "The Trooper" dibuka dengan permainan gitar Murray sepanjang 4 bar dan berselingan dengan fil in drum Nicko. Lalu disusul dengan hentakan musik rock up tempo yang beriring dengan permainan gitar Murray lainnya sepanjang 8 bar. Tak lama kemudian vokal Bruce tanpa iringan musik langsung masuk ke bagian verse dan berselingan hentakan musik nan singkat, lalu pada verse kedua diiringi dengan hentakan musik rock up tempo. 
     
Iron Maiden terus menerus merilis album-albumnya. Dalam waktu setahun, mereka telah merilis album baru berjudul Powerslaves di bulan September 1984. Album ini mengandalkan lagu "2 Minutes to Midnight", "Aces High", dan "Rime of The Acient Mariner". Lagu "2 Minutes to Midnight" dibuka dengan kocokan rif2 gitar Murray sepanjang 8 bar yang berselingan dengan fil in drum Nicko . Kemudian musik pada lagu ini berhiaskan rif2 gitar Murray mengalir dalam irama rock up tempo termasuk saat mengiringi vokal Bruce. Komposisi "Aces High" dibuka dengan permainan gitar sepanjang 8 bar yang berselingan dengan fil in Nicko yang berunision dengan dentaman bas Harris. Lalu musik lagu ini mengalir dalam birama 2/4 up tempo termasuk saat mengiringi vokal Bruce di bagian verse. Saat akan masuk ke bagian reffrain terjadi vokal yang bersahutan, namun ketika masuk ke bagian reffrain justru muncul harmonisasi vokal. Sedangkan komposisi "Rime of Acient Mariner" tampil dalam irama rock mid tempo dan gaya menyanyi Bruce sangat cepat sekali di bagian verse. Komposisi "Rime of Acient Mariner" menjadi komposisi terpanjang yang ditorehkan mereka saat itu. Mirip komposisi progresif rock atau metal yang selalu menyajikan arransemen nan panjang. 
      
Usai merilis Powerslaves, mereka langsung menggelar tour yang mengusung tema World Slavery Tour. Rangkaian tour ini bagi merupakan yang terbesar karena melakukan 193 show dan dilakukan lebih dari 13 bulan. Selain itu tour ini mampu mengumpulkan jumlah penonton hingga 3,5 juta orang. Sebagai contoh saat menggelar show di Long Beach, mampu mengumpulkan 54 ribu penggemarnya. Aksi mereka dalam tour ini kemudian didokumentasikan dalam album Live After Death. Album live ini menjadi album live dengan angka penjualan terbaik untuk kategori album hard rock/ heavy metal live. Selain itu mereka juga tampil sepanggung dengan Queen dalam Rock in Rio Festival dengan disaksikan 300 ribu penonton. Tour ini secara physic termasuk mempromosikan live album mereka.
     
Setelah merampungkan tour yang melelahkan, mereka sempat beristirahat sejenak. Namun saat kembali menggarap materi album baru di tahun 1986, mereka mulai dengan gaya yang berbeda. Melalui album Somewhere In Time mereka mengaku telah kehilangan gagasan. Tema album ini sebelumnya adalah tentang petualangan, kemudian berubah menjadi makhluk asing yang melakukan perjalanan. Selain itu untuk kali pertama mereka menggunakan perangkat syntheziser bass dan gitar untuk menghasilkan tekstur dan penempatan sound yang baik. Melalui pertimbangan yang berbeda dari kebiasaan sound mereka sebelumnya, toh mereka mampu menerobos chart di seluruh dunia. Khususnya melalui single "Wasted Years". Komposisi ini dibuka dengan permainan gitar Murray yang menghasilkan nada2 klasik beriring dengan patern gitar Smith nan rapat dan hentakan hit hat ke arah irama rock up tempo dari Nicko.

Pola musik mereka yang cenderung mengandalkan eksperimen tersebut kemudian diterapkan dalam album berikutnya berjudul Sevent Son of Seventh Son yang dirilis pada tahun 1988. Eskperimen tersebut ditambahkan untuk menyajikan konsep album dengan cerita tentang mitos anak yang memiliki kelebihan melihat peristiwa masa datang. Untuk kali pertama, band ini menggunakan kibor pada saat rekaman sebagai pengganti syntheziser gitar. Sambutan dan kritik diterima mereka saat album ini dirilis. Album ini menjadi album kedua yang mampu menduduki posisi puncak di Inggris. Selama Monster of Rock Festival di Donington Park pada tanggal 20 Agustus 1988, mampu mengumpulkan penonton sebanyak 107 ribu dan ini menjadi jumlah terbesar dalam sebuah sejarah festival musik. Penampilan lain di festival ini adalah Kiss, David Lee Roth, Megadeth, Guns N Roses, dan Helloween.
      
Pada tahun 1990, dalam kurun 10 tahun mereka merilis singel yang dihasilkan dalam The First Ten Years yang merangkum singel-singel mereka terdahulu termasuk B-sides. Sebelumnya, pada tahun 1989 gitaris Adrian Smith merilis solo album dengan bandnya bernama ASAP berjudul Silver and Gold. Kemudian aksi solo karier juga dilakukan Bruce Dickinson bersama gitaris Janick Gers dengan merilis album Tattooed Milionaire di tahun 1990.
     
Ternyata tour yang berlangsung dari tahun 1988 - 1989 menjadi tour terakhir bagi Adrian Smith bareng Iron Maiden. Posisi gitaris kemudian digantikan oleh Janick Gers. Sehingga Iron Maiden dapat leluasa menyelesaikan album berikutnya yang dirilis pada bulan Oktober 1990. Album tersebut adalah No Prayer For The Dying. Mereka juga meluncurkan singel yang berhasil menembus posisi pertama yaitu singel "Bring Your Daughter To The Slaunghter". Lagu ini aslinya, direkam oleh Bruce untuk soundtrack A Nightmare On Elm Street 5 : The Dream Child. Lagu yang dirilis tanggal 24 Desember 1990 ini dibuka dengan genjrengan gitar Gers yang berunision dengan dentaman bas Harris serta hentakan drum Nicko lalu musik lagu ini mengalir dalam irama rock up tempo. Hingga vokal Bruce masuk ke bagian verse dengan gaya menyanyi mirip orang membaca puisi, mirip dengan ketika membawakan lagu "Total Eclipse" di album The Number of The Beast (1982). Kemudian pada bagian reffrain dinyanyikan dengan biasa. Bruce juga menyisipkan gaya tertawa yang beraroma horor pada lagu ini.
     
Sementara itu komposisi "No Prayer For The Dying", tampil dalam irama slow rock yang menyajikan drive2 gitar Murray sepanjang 8 bar untuk intronya. Lalu vokal Bruce muncul di bagian verse yang berselingan dengan drive2 gitarMurray sepanjang 8 bar hingga masuk ke verse kedua. Kemudian diulang dengan drive2 gitar Murray sepanjang 8 bar dan 8 bar lagi seperti pada intro. Bagian jeda lagu ini menampilkan musik dengan tempo yang dipercepat dalam birama 2/4 dan tentu saja permainan gitar Murray dan Gers nan cepat penuh distorsi, sebelum akhirnya masuk ke bagian bridge.
     
Pada tahun 1991 itu pula Bruce telah memberanikan diri tampil secara solo dalam tour, sebelum akhirnya bergabung dengan rekan2nya di Iron Maiden untuk menggarap album Fear of The Dark. Album Fear of The Dark dirilis pada tahun 1992 yang sangat menarik lantaran Iron Maiden akan merilis album ini dalam format CD album daripada LP. Beberapa lagu sempat menjadi favorit para penggemar mereka seperti "Afraid to Shoot Strangers". Lagu ini dibuka dengan petikan gitar rhytm Gers yang bersanding dengan dentaman bas Harris sepanjang 8 bar, kemudian vokal Bruce masuk ke bagian verse dalam hentakan musik berbirama 3/4. Setelah melalui verse kedua kemudian muncul drive2 gitar Murray yang diiringi hentakan musik slow bit funk sebelum akhirnya masuk ke bagian reffrain. Selain itu, lagu "wasting Love" juga disukai para penggemar mereka. Lagu ini dibuka dengan drive2 gitar Murray dalam irama slow bit funk sepanjang 8 bar, kemudian disusul dengan petikan gitar rhytm Gers tanpa iringan alat musik lain hingga vokal Bruce masuk ke bagian verse diiringi petikan gitar rhytm Gers ini. Album Fear in The Dark juga meluncurkan singel yang berhasil menduduki posisi ke-2 yaitu "Be Quick or Be Dead". Lagu ini tampil dengan konsep musik speed metal dengan hiasan rif2 gitar Gers dan Murray. Album ini menjadi album pertama yang menempatakan Gers sebagai penulis lagu, dan bukan merupakan kolaborasi antara Harris bersama Bruce.
    
Seperti biasa, mereka lalu menggelar tour ke beberapa negara seperti yang pertama dilakukan di Amerika Latin. Kemudian mereka juga tampil dalam Monster of Rock Festival serta di tujuh negara eropa. Penampilan kedua mereka adalah di Donington Park yang dihadiri 80 ribu penonton dan kemudian didokumentasikan dalam album serta video berjudul Live at Donington. Sayang, pada tahun 1993 Bruce memutuskan untuk mengundurkan diri dari grup. Namun dia telah menyepakati kerjasama dengan Iron Maiden sebelum keluar dengan merampung dua live album serta beberapa tour sisa. Pertama adalah album A Real Live One yang menyajikan lagu-lagu dari tahun 1986 - 1992 dan dirilis pada bulan Maret 1993. Kemudian yang kedua adalah A Real Dead One yang menyajikan lagu-lagu dari tahun 1980 - 1984 dan dirilis setelah Bruce mengundurkan diri. Salah satu show yang sempat difilmkan oleh BBC adalah ketika Bruce tampil bareng Iron Maiden pada tanggal 28 Agustus 1993. Rekaman video ini kemudian dirilis dengan nama Raising Hell. 
     
Pada tahun 1994, Iron Maiden mengaudisi ratusan calon vokalis. Hingga kemudian Blaze Bayley ditetapkan sebagai vokalis Iron Maiden yang baru menggantikan posisi Bruce Dickinson. Dia berasal dari grup Wolfsbane. Blaze memiliki karakter vokal yang berbeda dengan Paul maupun Bruce. Setelah dua tahun belum memproduksi album, akhirnya album berjudul The X Factor dirilis pada tahun 1995. Album ini merupakan yang hanya mampu menduduki posisi terrendah sejak tahun 1981. Album ini menyajikan komposisi berdurasi 11 menit berjudul "Sign of The Cross". Justru lagu ini durasinya mampu menyamai lagu lawas mereka berjudul "Rime of The Ancient Mariner". Selain itu mereka juga menyodorkan lagu "Man on The Edge" yang mengadaptasi dari cerita Film Falling Down. Lagu ini dibuka dengan hentakan musik yang berselingan drive gitar Murray, kemudian disusul dengan hentakan musik berbirama 2/4 yang up tempo mengiringi vokal Blaze di bagian verse dan reffrain. Usai merilis album yang hasilnya biasa-biasa itu, mereka lalu menggelar tour di tahun 1995 - 1996 dengan kawasan Israel serta Afrika Selatan sebagai tour awal mereka. Dalam tour itu mereka merilis album kompilasi berjudul Best of The Beast yang berisi satu singel terbaru berjudul "Virus". Lagu "Virus" dibuka dengan petikan gitar Gers yang beriring dengan dentaman bas Harris dan bit2 hit hat dari Nicko.

Perlahan-lahan vokal Blaze masuk ke bagian verse dan terkadang berunision dengan hentakan drum Nicko, dentaman bas Harris serta rif-rif gitar yang dimainkan Murray. Hingga musik pada lagu ini mengalir dalam irama rock up tempo.

Mereka baru merilis album baru pada tahun 1998 melalui album Virtual XI. Sayang, album ini lagi-lagi harus berada di chart terrendah dan angka penjualannya tidak sampai angka 1 juta copy di seluruh dunia. Mungkinkah Iron Maiden bakal berakhir dengan dua album yang gagal di angka penjualan serta chart? Hingga kemudian Blaze memilih hengkang dari Iron Maiden pada bulan Februari 1999. Beberapa saat kemudian muncul kabar bahwa Bruce dan gitaris Adrian Smith akan kembali memperkuat Iron Maiden. Sementara Gers masih tetap dipertahankan di grup tersebut. Sehingga band tersebut memiliki tiga gitaris dan itu ditunjukkan mereka saat menggelar tour reuni dalam The Ed Hunted Tour yang cukup sukses. Tour ini diikuti dengan merilis greatest hits Ed Hunter sebuah video game dengan menampilkan mereka sebagai mascotnya.
    
Kemudian tiba waktu yang ditunggu para fans Iron Maiden, yaitu album baru reuni mereka. Album tersebut dirilis pada tahun 2000 dengan judul Brave New World. Judul album ini mengambil dari novel karya Aldous Huxley dengan judul yang sama. Materi album ini benar-benar berbeda dengan kebiasaan Iron Maiden sebelumnya, yaitu mengandalkan sound orkestrasi yang berasal dari perangkat kibor dan nada-nadanya jauh lebih melodik. Sebagai contoh lagu "Ghos In The Navigator" yang dibuka dengan nada-nada melodik melalui permainan gitar Murray dan merupakan nada-nada dari bagian reffrain lagu itu. Atau pada lagu "Blood Brothers" dibuka dengan dentaman bass Harris dan sound string dari permainan kibor dari permainan Harris pula. Itu berarti pada lagu yang berbirama 6/8 ini, sistem rekamannya menggunakan sistem overdub. Mengingatkan dentaman bas dan permainan kibor berbunyi pada saat yang sama. Tour dunia untuk mempromosikan album ini juga digelar dan penampilan mereka paling akbar adalah di acara Rock In Rio Festival yang berlangsung tanggal 19 Januari 2001 di Brazil. Di acara tersebut mereka mampu mengumpulkan penonton hingga 250 ribu orang. Penampilan mereka di acara ini kemudian didokumentasikan dalam video yang dirilis bulan Maret 2002 dengan judul Rock in Rio.
    
Ketika menggelar Give Me Ed Till I'm Dead Tour yang berlangsung di musim panas tahun 2003, mereka merilis album baru berjudul Dance of Death. Album ini justru kembali meraup sukses di seluruh dunia. Mereka mencoba menawarkan konsep musik yang kembali ke era awal seperti di album Peace of Mind atau The Number of The Beast. Sebagai lagu andalan mereka memajang "Montsegur" dan "Paschendale". Komposisi "Montsegur" menghadirkan pola musik mereka yang condong ke irama swing rock up tempo dan tentu saja mengandalkan rif2 gitar dari Murray, Gers, dan Smith. Pada bagian bridge lagu ini vokal Bruce mampu menyatu dalam nada2 permainan gitar Murray. Sementara itu lagu "Paschendale" dibuka dengan bit-bit hit hat yang menyajikan irama prog rock mid tempo dari Nicko. Sementara Murray memainkan nada-nada klasik yang seolah menyajikan scale lagu itu, termasuk ketika mengiringi vokal Bruce. Kemudian lagu ini mengalir dalam irama slow bit funk yang berlamur sound rif2 gitar.
     
Album ini kemudian disusul dengan tour yang mengusung nama Dance of Death World Tour dan mereka tampil di muka 750 ribu penggemarnya dalam periode empat bulan antara tahun 2003-2004. Di Amerika, Eropa, dan Jepang, tiket mereka telah ludes terjual. Kemudian dalam penampilan di Westfalenhalle - Dortmund - Jerman, sempat direkam dalam album live Death on The Road yang dirilis tahun 2005. Album ini juga dirilis bersamaan dengan DVD nya. Lalu pada tahun 2005 mereka menggelar tour memperingati 25 tahun album pertama mereka, Iron Maiden dan 30 tahun eksistensi mereka. Tour ini juga didukung dengan DVD Early Days yang dirilis tahun 2004 yang didalamnya terdapat singel "Number of The Beast" yang diarransemen ulang dan berhasil menduduki posisi ke-3 di Inggris. Tour ini mampu mengumpulkan para penggemarnya dalam jumlah cukup banyak, seperti misalnya saat mereka tampil di Ullevi Stadium - Swedia, disaksikan sekitar 60 ribu penonton. Konser ini disiarkan secara langsung melalui jaringan satelit dan disaksikan 60 juta pemirsa.
    
Tiga tahun setelah merilis album Dance of Death, masih dengan formasi yang sama, mereka merilis album berjudul A Matter of Life and Death pada musim panas tahun 2006. Pada album ini mereka berevolusi ke dalam format musik progressif rock, dan banyak menumpahkan aspek heavy metal seperti halnya pada album - album mereka di awal tahun 1980-an. Sebagai contoh komposisi "Different World" yang pola musiknya mengingatkan pada pola musik mereka pada album-album awal seperti di album Iron Maiden (1980) atau Killers (1981). Sedangkan pola musik progressif rock bisa dijumpai pada komposisi "These Colours Dont Run" yang menyajikan permainan gitar Murray - Smith mampu bersinergi atau berunision dengan permainan bas Harris. Mereka langsung menggelar serangkaian tour, termasuk merekam sessi live di album studio Abbey Road, studio rekaman bersejarah yang merupakan tempat The Beatles merekam album - albumnya. Sessi rekaman di Abbey Road ini berlangsung pada bulan Desember 2006 dan direkam dalam album Live From Abbey Road. Mereka juga tampil bersama Natasha Bedingfield dan Gipsy Kings pada bulan Maret 2007 di Channel 4 Inggris lalu dilanjutkan penampilan di Sundance Channel Amerika pada bulan Juni 2007.     
     
Pada tahun yang sama mereka merayakan 25 tahun sukses album The Number of The Beast melalui tour yang dipadukan dengan promo album mereka terakhir. Sehingga tour tersebut mengusung nama A Matter of The Beast. Aksi mereka dalam memperingati album yang sukses itu dilakukan pada panggung2 musik festival kelas besar di seluruh dunia. Pada aksi tersebut mereka membawakan lima lagu dari album A Matter of Life and Death dan lima lagu dari album The Number of The Beast. Selain itu untuk kali pertama mereka juga tampil di Dubai Desert Rock Festival pada tahun 2007 di hadapan 20 ribu fans. Mereka juga untuk kali pertama tampil di India dengan menggelar konser di Bangalore di hadapan 45 ribu penonton yang memadati Bangalore Palace Grounds. Mereka juga tampil di Inggris di acara Download Festival yang berlangsung di Donington Park untuk ke empat kalinya dalam karir mereka. Lalu pada tanggal 5 September 2007, mereka berencana menggelar Somewhere Back In Time World Tour yang baru terlaksana setahun kemudian. Pola panggung disesuaikan dengan pola panggung mereka di tahun 1980-an. Tour tersebut untuk kali pertama digelar di Mumbai - India pada tanggal 1 Februari 2008 dengan tampil di hadapan 30 ribu penonton. Tour ini berlangsung di 21 kota dalam 24 konser dan menempuh perjalanan sepanjang 50 ribu mil serta mencarter pesawat Ed Force One.
    
Masih di tahun 2008, tepatnya pada tanggal 12 Mei mereka merilis album kompilasi lagu berjudul Somewhere Back in Time. Album ini berisi materi dari album pertama hingga album Seventh Son of The Seventh Son (1988) serta sebagian materi Live After Death. Pada tahun tersebut, mereka masih rajin menggelar tour di kawasan Inggris bertempat di Twickenham Stadium hingga di melalui Peru, Venezuela, India, dan berakhir di Florida pada tanggal 2 April 2009. Dalam tour tersebut, mereka mampu mengumpulkan penonton terbanyak di Sao Paulo pada tanggal 15 Maret 2009 sebanyak 100 ribu penonton. Masih dalam suasana tour itu, pada tanggal 20 Januari 2009 mereka meluncurkan film dokumenter berjudul Iron Maiden - Flight 666. Film ini menggambarkan perjalanan tour mereka dalam Somewhere Back In Time Tour yang berlangsung dari bulan Februari - Maret 2008. Film ini diproduseri oleh Banger Productions dan dirilis di bawah label Universal Music Group di Amerika dan EMI Records.
    
Melalui wawancara radio dalam promo film Flight 666, drummer Nicko Mc Brain menyatakan bahwa pada tahun 2009 tengah merampungkan album baru yang kemudian berjudul The Final Frontier. Masih di tahun 2009, mereka diganjar penghargaan BRIT Awards untuk Best Live Act. Sedangkan album The Final Frontier bakal dirampungkan pada tahun 2010, kemudian disusul dengan tour dunia yang telah menjadi tradisi bagi mereka. Ketika tengah sibuk menyelesaikan album The Final Frontier, pada bulan Desember 2009 mereka mempersiapkan diri untuk tampil dalam Summer of 2010 Festival. Kemudian disusul dengan Sonisphere Festival di Inggris, lalu tampil di Swedia, dan Finlandia. Acara Wacken Open Air di Jerman juga tidak mereka lewatkan hingga acara Soundwave Festival yang berlangsung di Australia pada tahun 2011.
     
Sementara album The Final Frontier baru dirilis pada tanggal 16 Agustus 2010. Album ini mengandalkan "Satellite 15" yang dibuka dengan sound efek gitar kemudian disusul dengan permainan drum nan variatif cukup panjang dari Nicko. Murray menyisipkan drive2 gitar sepanjang permainan drum nan variatif itu. Ketika ketukan drum terhenti dan hanya menyisakan permainan gitar nan singkat, vokal Bruce masuk ke bagian verse dengan iringan genjrengan gitar Gers. Setelah melalui verse pertama, Nicko langsung memainkan bit2 yang berunision dengan rif2 gitar dari Smith, sedangkan Murray masih asyik memainkan drive2 gitar mengiringi vokal Bruce. Kemudian musik mereka mengalir dalam irama rock up tempo.

Album ini kemudian menduduki posisi pertama di 28 negara termasuk di Kanada. Sedangkan di Amerika harus puas menduduki posisi ke-4. Namun akhirnya, album ini mampu menduduki posisi puncak di 10 negara lainnya di bulan September 2010. Termasuk menduduki posisi pertama selama tiga minggu dalam Billboard Hard Rock Albums dan tiga minggu di posisi puncak dalam European Album Chart. Sementara untuk tour, telah mereka lakukan sejak musim panas tahun 2010 di Amerika dan Eropa. Tour ini juga berlanjut hingga tahun 2011 termasuk Indonesia salah satunya sebagai negara yang masuk dalam jadwal tour mereka. Sedangkan tour ini akan berakhir tanggal 6 Agustus 2011 di The O2 Arena - London.

Anggota
Bruce Dickinson - vokal (1981-1993, 1999-sekarang)
Dave Murray - gitar (1976-sekarang)
Adrian Smith - gitar (1980-1990, 1999-sekarang)
Janick Gers - gitar (1990-sekarang)
Steve Harris - bas (1975-sekarang)
Nicko McBrain - drums (1983-sekarang)

Pendiri
Steve Harris
Dave Murray (menggantikan Dave Sullivan setelah 2 bulan)
Paul Di 'Anno - vokal (1975-1976)
Terry Rance - gitar (1975-1976)
Ron Matthews - drums (1975-1977)

Diskografi
Iron Maiden (1980)
Killers (1981)
The Number of the Beast (1982]
Piece of Mind (1983)
Powerslave (1984)
Somewhere in Time (1986)
Seventh Son of a Seventh Son (1988)
No Prayer for the Dying (1990)
Fear of the Dark (1992)
The X Factor (1995)
Virtual XI (1998)
Brave New World (2000)
Dance of Death (2003)
A Matter of Life and Death (2006)
The Final Frontier (2010)