Thursday, December 6, 2012

Sistem Kemasyarakatan (gelar) suku bugis

Sistem Kemasyarakatan orang bugis

menurut Friedericy, dulu ada tiga lapisan pokok, yaitu:
  1.  Anakarung : lapisan kaum kerabat raja-raja.
  2. To-maradeka Tu-mara-deka : lapisan orang merdeka yang merupakan sebagian besar dari rakyat Sulawesi Selatan. 
  3. Ata : lapisan orang budak, yaitu orang yang ditangkap dalam peperangan, orang yang tidak dapat membayar hutang,      atau orang yang melanggar pantangan adat.

Gelar Suku Bugis

Susunan Lapisan Gelar-gelar yang terdapat pada Suku Bugis:
  1. Datu, adalah Gelara yang di berikan kepada bangsawan bugis yang memegang pemerintahan daerah, yang sekarang             setingkat dengan (Bupati).
  2. Arung, adalah Gelar yang diberikan kepada bangsawan bugis yang memegang pemerintahan wilayah yang sekarang           setingkat dengan (Camat).
  3. Andi, adala gelar yang diberikan kepada bangsawan bugis yang biasanya anak dari perkawinan antara keturunan                 arung dengan arung.
  4. Puang, adalah Gelar yang diberikan kepada anak dari hasil perkawinan antara arung atau andi yang mempunyai istri          masyarakat biasa, begitupun sebaliknya.
  5. Iye, adalah gelar yang diberikan kepada masyarakat biasa yang masih memiliki silsilah yang dekat dengan kerabat              bangsawan.
  6. Uwa, adala kasta ter rendah dalam masyarakat bugis yaitu gelar yang diberikan kepada masyarakat biasa.

Wednesday, December 5, 2012

kesenian masyarakt suku bugis

Alat musik



Kacapi ( kecapi)
Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
Sinrili
sinrili
sinrili
alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.
Gendang

Pa' Gendang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar seperti rebana.
Suling
seruling
seruling
Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan dimainkan bersama penyanyi
• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau acara penjemputan tamu.
Seni Tari
• Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan    bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan.
• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang menenun benang menjadi             kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan perempuan-perempuan Bugis.
• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria), namun jenis tarian ini sulit sekali                        ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa’, tari Pa’galung, dan tari Pabbatte (biasanya di gelar padasaat      Pesta Panen).

Biografi Adele

Biografi Adele













Nama Lengkap: Adele Laurie Blue Adkins
Nama Populer: Adele
Tanggal Lahir: 5 Mei 1988
Tempat Lahir: Tottenham, London Utara, Inggris
Kewarganegaraan: Inggris
Pekerjaan: Penyanyi dan Penulis Lagu
Genres: Soul, Blues, Pop
Instruments: Vocals, Guitar, Piano, Bass, Celesta, Percussion, Keyboard
Tahun Aktif: 1996 - saat ini
Label: XL, Columbia
Situs Resmi Adele: Adele.tv

Adele Laurie Blue Adkins atau yang lebih dikenal dengan nama Adele lahir pada tanggal 5 Mei 1988 di Tottenham, Inggris. Dia merupakan seorang penyanyi asal Inggris. Salah satu lagu terkenalnya adalah "Someone Like You".

Adele mengawali karirnya pada tahun 2006. Dia menandatangani kontrak dengan XL Recordings salah satu produsen rekaman di Inggris pada bulan September 2006. Pada bulan Oktober 2007, Adele merilis lagu "Hometown Glory".

Tahun 2008, Album perdana Adele dirilis dengan judul "19", album ini merupakan langkah awal Adele mulai dikenal luas masayarakat dunia. Terbukti, di tahun 2009, Dia berhasil meraih Grammy Awards kategori "Pendatang Baru Terbaik" dan "Penampilan Vokal Pop Terbaik".

Pada bulan Januari 2011, Adele merilis album ke duanya yang berjudul "21", dari Album tersebut lahir lagu "Rolling in the Deep", lagu ini berhasil mencapai tangga lagu urutan ke dua di Inggris dan menjadi nomor satu pertamanya pada US Billboard Hot 100. Single ke duanya berjudul ""Someone Like You", dirilis pada Februari 2011, dan berhasil menjadi lagu nomor satu di Inggris dan Irlandia. Lagu ini juga menjadi lagu nomor satu di tangga lagu  Amerika Serikat.

Pada tahun 2012, Adele berhasil meraih enam penghargaan Grammy Awards ke-54, antara lain:  Album of the Year, Record of the Year, Song of the Year, Best Pop Vocal Album, Best Short Form Music Video, dan Best Pop Solo Performance.

Album Adele
"19" dirilis pada tanggal 28 Januari 2008
"21" dirilis pada tanggal 19 Januari 2011

Lagu-lagu Hits Adele
"Hometown Glory", "Chasing Pavements", "Cold Shoulder", "Make You Feel My Love", "Rolling in the Deep", "Rolling in the Deep", "Set Fire to the Rain", "Rumour Has It".

Tuesday, December 4, 2012

Mapaleppe Manu (tradisi suku bugis)

SAWITTO -  Mapaleppe manu atau biasa juga disebut Maleppessang manu dalam adat bugis merupakan suatu ritual pelepasan ayam disebuah Galung (sawah) atau Dare (kebun) guna sebagai pelepasan bagian agar mendapatkan hasil yang baik di lahan mereka. Hal ini telah dilakukan oleh hampir dari keseluruhan masyarakat bugis. Kegiatan ini juga merupakan suatu kegiatan penting yang selalu dilakukan tiap tahun.
 
                Masyarakat bugis mempercayai bahwa hal ini akan memberikan kebaikan bagi mereka. Adapun setelah mapaleppe manu ini, orang yang berada disekitar diperbolehkna untuk mengejar ataupun memburu ayam tersebut. Barang siapa yang berhasil menangkap ayam tersebut atau didatangi oleh ayam tersebut akan menjadi pemilik ayam tersebut.


                Namun kadang ayam-ayam ini berhasil lepas dan dipercaya bahwa nantinya ayam itu akan memilih sendiri siapa tuannya dengan mendatangi orangnya yang mungkin tidak berada ditempat itu. Mapaleppe manu juga memiliki beberapa persyaratan yang tentunyatidak langsung melepaskan ayam tersebut.
                Adapun beberapa hal yang bisa dikait dalam ritual mapaleppe manu ini iyalah menyediakan ayam, baiknya ayam berwarna hitam, lalu garam, serta seorang ahli yang dikenal sebagai Sanro atau pakanre guru yang dipercaya warga sebagai pemimpin juga sebagai pembaca doa dalam ritual ini. 
                Walaupun ritual ini terbilang cukup singkat dalam pelaksanaannya, namun banyak masyarakat yang mempercayai bahwa bila dilaksanakan dengan baik maka itu tidak berguna sehingga hasilnyaa tidak ada serta perlu untuk diulang.
                Adapan dalam ritual mapaleppe manu ini nantinya Sanro atau pakanre guru’ta akan menghadap kearah larai (barat). Juga diadakan marakka badi serta bangkung yang nantinya dijadikan sebagai penjaga tempat tersebut dari hal-hal yang tidak dinginkan kala pemiliknya mengolah lahannya tersebut.


Monday, December 3, 2012

MAPPACCI DALAM TRADISI NIKAH (BOTTING) MASYARAKAT BUGIS





Siapa yang tidak kenal kisah romeo dan Juliet…. ! Kisah romantis ala barat yang dikenduskan dalm film titanic. Jangankan orang dewasa dan remaja, bahkan anak-anak pun jarang tak mengenalnya. Sebelumnya anda mungkin pernah pula  menonton di layar televisi, pernikahan putra no 1 indonesia, Bapak SBY, Ibas baskoro yang menikah dengan putri Hatta Rajasa. Tentu kemewahan dan kemeriahanlah yang anda lihat.
.

Pernahkah anda berpikir topik di atas di Tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Yang tak pernah di Filmkan, atau di hadirkan dilayar kaca televisi kita…! Kalo tidak tulisan ini akan mengenalkan anda.

Orang bugis, menyebut menikah atau married dengan kata botting yang merupakan bahasa bugis itu sendiri. Tapi botting bukan sekedar makna menikah, seperti pemahaman umum kita. Kerena botting sarat akan adat istiadat orang bugis.

Botting dalam tradisi bugis memiliki tahap yang cukup panjang dan tahapan yang banyak pula. Secara umum ada tiga tahapan. Pertama upacara pra pernikahan, di dahului oleh pemilihan jodoh, Mammanu’-manu (Penjajakan), Madduta atau massuro(meminang), Mappasiarekeng (mengukuhkan kesepakatan), Mappaisseng danmattampa (menyebarkan undangan), Mappatettong sarapo/baruga (mendirikan bangunan), Mappasu Botting dan cemme’passili’ (merawat dan memandikan oengantin), Mappaci atau tudangmpenni.

Tahapan kedua yakni Resepsi atau biasa disebut pesta perkawinan, dan ketigaupacara pasca perkawinan. Yang masing-masing didalamnya masih memiliki tahapan-tahapan yang banyak lagi. Yang tidak sempat kami sebutkan keseluruhannya.
Mappaci artinya dalam bahasa Indonesia yakni mensucikan diri, yang berasal dari kata pacci bersih atau suci. Yang dilaksanakan oleh kedua mempelai botting dirumah masing-masing, dalam artian kedua mempelai mappaci sendiri-sendiri. Mappaci berlangsung di malam menjelang hari “H” perkawinan.

Proses mappaci harus dilakukan sesuai adat yang diturunkan, seperti yang ditulis olehBadruzzaman, 2007. Di mulai dengan penjemputan (paddupa) mempelai dipersilahkan duduk di pelaminan. Salah satu keluaga yang ditunjuk mengucapakan uangkapan;
“Patarakkai mai belo tudangeng
Naripatudang siapr siata
Taue silelel uttu patudangeng
Padatuddan mappacci sileo-leo
Riwenni tudampenni kuaritu
Paccingi siae datu belo tudangeng
Ripatajang mai bottingnge
Naripaterru cokkong di lamming lakko ulaweng”

Artinya: Calon mempelai dipersilahkan menuju pelaminan. Pelaminan di sisi para pendamping. Duduk saling berdekatan satu sama lain. Mereka susuk bersuak ria di malam tudampenni. Mappaci pada sang raja/ratu mempelai nan rupawan. Tuntun dan bimbinglah sang raja/ratu menuju pelaminan yang bertahtakan emas.

Si mempelai di persilahkan duduk di pelaminan. Lalu didepannya diberi satu buah bantal sebagai simbol mappakalebbi (penghormatan), tujuh lembar sarung sutera sebagi simbol harga diri, sepujuk daun pisang simbol hidup yang berkesinambungan, tujuh daun nangka sebagi simbol menas (harapan). Sepiring wenno (padi yang disangrai hingga mengembang) sebagai simbol berkembang baik, sebatang lilin yang berapi simbol penerangan, dan daun pacar yang ditumbuk dan dihaluskan sebagai simbil kesucian dan bekkeng (tempat pacci yang terbuat logam kuning) sebagai symbol penyatuan duan insan botting( pengantin).

Selanjutnya cara pelaksanaan adat ini, yakni satu persatu orang mengambil daun daripacci dari dalam bekkeng kemudian mengusapkan ketelapak tangan mempelai dengan disertai doa. Saat sementara itu berjalan, indo botting (orang tua mempelai)  menghamburkan wenno kemempelai.

Orang-orang yang di undang dalam mengusapkan pacci tadi, biasanya adalah keluarga, kerabat dekat dan orang-orang yang memiliki kedudukan sosial yang baik dan kehidupan rumah tangganya bahagia dan lenggeng.

‘’Mappaci iyanaritu gau’ ripakkeonroi nallari ade’ gau mabbiasa tampu’ sennu-sennuang, ri nia akkata madeceng mammuarei pammase Dewata seuwae.’’

Artinya: Mappaci merupakan upacara yang sangat kental dengan nuansa bathin. Dimana proses ini merupakan upaya manusia untuk mebersihkan dan mensucikan diri dari segalahal yang tidak baik. Dengan keyakinan bahwa tujaun yang baik harus didasari oleh nat dan upaya yang baik pula. (Badruzzaman,2007)

Begitulah gambaran umum tradisi Pacci dalam masyarakat adat Bugis Sulawesi Selatan. Yang sarat akan makna kesucian dan keruhanian menjelang pernikahan

Sunday, December 2, 2012

SONGKOK RECCA/SONGKO TO BONE


Songkok Recca’ terbuat dari serat pelepah daun lontar dengan cara dipukul-pukul
(dalam bahasa Bugis : direcca-recca) pelepah daun lontar tersebut hingga yang tersisa hanya seratnya. Serat ini biasanya berwarna putih, akan tetapi setelah dua atau tiga jam kemudian warnanya berubah menjadi kecoklat-coklatan. Untuk mengubah menjadi hitam maka serat tersebut direndam dalam lumpur selama beberapa hari. Jadi serat yang berwarna hitam itu bukanlah karena sengaja diberi pewarna sehingga menjadi hitam. Serat tersebut ada yang halus ada yang kasar, sehingga untuk membuat songkok recca’ yang halus maka serat haluslah yang diambil dan sebaliknya serat yang kasar menghasilkan hasil yang agak kasar pula tergantung pesanan.Untuk menganyam serat menjadi songkok menggunakan acuan yang disebut Assarengyang terbuat dari kayu nangka kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai songkok. Acuan atau assareng itulah yang digunakan untuk merangkai serat hingga menjadi songkok. Ukuran Assareng tergantung dari besar kecilnya songkok yang akan dibuat.
Sejak kapan munculnya Songkok Recca’ (Songkok To Bone)?
Songkok recca’ (songkok to Bone) menurut sejarah, muncul dimasa terjadinya perang antara Bone dengan Tator tahun 1683. Pasukan Bone pada waktu itu menggunakan songkok recca’ sebagai tanda untuk membedakan dengan pasukan Tator.
Pada zaman pemerintahan Andi Mappanyukki (raja Bone ke-31), songkok recca dibuat dengan pinggiran emas (pamiring pulaweng) yang menunjukkan strata sipemakainya. Akan tetapi lambat laun hingga sekarang ini siapapun berhak memakainya. Bahkan beberapa kabupaten di Sulawesi memproduksinya sehingga dapat dikatakan, bahwa songkok recca yang biasa juga disebut sebagai Songkok To Bone yang merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa orang Bone tersebut mendapat apresiasi baik dari masyarakat Sulawesi maupun Indonesia pada umumnya.
Di Kabupaten Bone Songkok Recca/Songkok To Bone diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone. Di daerah tersebut terdapat terdapat komunitas masyarakat secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil prosese mengayam pelepah daun lontar ini yang disibut Songkok Recca atau Songkok To Bone.
Oleh: Mursalim, S.Pd., M.Si. (Direktur Lembaga Seni Budaya Teluk Bone)Sejak kapan munculnya Songkok Recca’ (Songkok To Bone)?
Songkok recca’ (songkok to Bone) menurut sejarah, muncul dimasa terjadinya perang antara Bone dengan Tator tahun 1683. Pasukan Bone pada waktu itu menggunakan songkok recca’ sebagai tanda untuk membedakan dengan pasukan Tator.
Pada zaman pemerintahan Andi Mappanyukki (raja Bone ke-31), songkok recca dibuat dengan pinggiran emas (pamiring pulaweng) yang menunjukkan strata sipemakainya. Akan tetapi lambat laun hingga sekarang ini siapapun berhak memakainya. Bahkan beberapa kabupaten di Sulawesi memproduksinya sehingga dapat dikatakan, bahwa songkok recca yang biasa juga disebut sebagai Songkok To Bone yang merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa orang Bone tersebut mendapat apresiasi baik dari masyarakat Sulawesi maupun Indonesia pada umumnya.
Di Kabupaten Bone Songkok Recca/Songkok To Bone diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone. Di daerah tersebut terdapat terdapat komunitas masyarakat secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil prosese mengayam pelepah daun lontar ini yang disibut Songkok Recca atau Songkok To Bone.